Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Dinkes Minta Fasilitas Kesehatan Cegah Malaria ''Impor''

Jumat 09 Mar 2018 10:02 WIB

Red: Gita Amanda

Nyamuk Malaria

Nyamuk Malaria

Foto: ABC News
Faskes diminta selektif menangani pasien dan segera memberikan pengobatan malaria.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Jawa Barat mengimbau fasilitas kesehatan (faskes) terutama rumah sakit dan puskesmas untuk lebih selektif menangani pasien malaria impor. Dwi menyebutkan tercatat ada tiga kejadian malaria impor sepanjang 2018 ini.

"Untuk dokter apabila ada pasien datang dengan gejala trias malaria segera lakukan uji laboratorium, agar tidak terlambat memberikan pengobatan," kata Pengelola Program Malaria bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Bogor, Dwi Sutanto, Jumat (9/3).

Rata-rata malaria impor diderita oleh warga Kota Bogor setelah melakukan perjalanan di wilayah endemis malaria. Ia mengatakan langkah antisipatif ini dilakukan agar pengobatan terhadap pasien malaria dapat segera diberikan, jangan sampai menunggu parasit malaria masuk stadium lanjut yang dapat membahayakan kesehatan pasiennya.

"Trias malaria tersebut demam tinggi, berkeringat dan menggigil. Dokter harus curiga, apalagi ada riwayat melakukan perjalanan di daerah endemis," kata Dwi.

Pernah satu kasus pasien malaria impor ketika melakukan pengobatan di salah satu rumah sakit, tidak terdiagnosis malaria. Namun pasien mengeluhkan gejala trias malaria.

Pihak rumah sakit tidak melakukan uji laboratorium terhadap pasien. Sementara pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah edemis malaria di Papua. Tim dinkes menyarankan pasien tersebut melakukan uji laboratorium, dari hasil pengujian diketahui positif plasmodium vivax, terdapat parasit malaria.

"Untuknya pasien melaporkan hal itu ke kita (Dinkes) sehingga bisa langsung kita arahkan untuk melakukan uji laboratorium dan pengobatan," katanya.

Menurut Dwi, apabila penanganan terhadap pasien malaria lambat dilakukan, dan terjadi stadium lanjut hingga komplikasi. Pasien akan mengalami kejang, tidak sadarkan diri, urine berdarah, tubuh berwarna kuning, kekurangan darah, sedangkan bagi ibu hamil bisa menyebabkan keguguran.

Rata-rata dari tiga kasus malaria impor dialami warga Kota Bogor yang memiliki aktivitas sebagai dosen, peneliti dan tenaga kerja lapangan yang kerap mengunjungi wilayah endemis Malaria. Untuk mencegah malaria, lanjut Dwi, dapat dilakukan bagi mereka yang hendak bepergian ke wilayah endemis malaria seperti membawa obat-obatan, lotion anti nyamuk, dan menggunakan pakaian berlengan panjang.

"Kalau bepergian tidak lama cuma satu minggu, bisa membawa obat Profilaxis, tersedia di apotik. Diminum sehari sebelum berangkat," katanya.

Untuk yang melakukan perjalanan lebih dari dua pekan tidak dianjurkan mengkonsumsi obat tersebut. Tetapi lebih dianjurkan untuk menjaga kontak dari nyamuk dengan menggunakan lotion anti nyamuk, serta berpakaian lengan panjang.

Apabila setelah pulang dari daerah endemis terdapat gejala trias malaria. Penderita dianjurkan langsung memeriksakan diri ke Puskesmas, atau rumah sakit, dan secepatnya melakukan pemeriksaan laboratorium.

"Pemeriksaan lab ini supaya diketahui cepat parasitnya, dan cepat pengobatan diberikan," kata Dwi.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA