Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Kementerian ESDM: Harga Batu Bara Naik 1,6 Persen

Jumat 09 Mar 2018 06:30 WIB

Red: Andi Nur Aminah

 Pembangkit tenaga berbahan batu bara di Wuhai, Cina.

Pembangkit tenaga berbahan batu bara di Wuhai, Cina.

Foto: Reuters/Jason Lee
Permintaan batu bara dari Cina, India dan Vietnam terus meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga batu bara Acuan (HBA) Maret 2018 naik 1,16 persen menjadi 101,86 dolar AS per ton dibanding HBA Februari sebesar 100,69 dolar AS per ton. Harga itu berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menurut hasil analisis data tersebut, kenaikan harga batu bara salah satunya didorong peningkatan permintaan dari negara Asia. Harga Batu bara Acuan (HBA) dan mayoritas Harga Mineral Acuan (HMA) menunjukkan kenaikan pada bulan Maret 2018. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 1320 K/32/MEM/2018 yang ditetapkan awal Maret 2018 tentang Besaran HMA dan HBA mencatatkan tren positif pada batu bara dan hampir semua mineral logam.

"Permintaan Cina, India dan Vietnam terus meningkat. Itu jadi salah satu penyebabnya. Peningkatan aktivitas pembangkit listrik bertenaga batu bara seperti di Cina menjadi salah satu penyebab meningkatnya konsumsi," ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja sama ESDM, Agung Pribadi.

Ia mengungkapkan, naiknya HBA juga karena faktor curah hujan yang masih tinggi. "Produksi (batu bara) juga tidak maksimal akibat cuaca yang belum kondusif, curah hujan yang masih tinggi di berbagai wilayah. Sedikit gangguan saja akan memengaruhi produksi," lanjut Agung.

HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platss 5900 pada sebelumnya. Kualitasnya disetarakan pada kalori 6322 kcal per kg GAR, Total Moisture 8 persen, Total Sulphur 0,8 persen dan Ash 15 persen.

Sementara itu, HMA komoditas nikel untuk Maret 2018 ditetapkan senilai 13.444,52 dolar AS per dry metric ton (dmt) atau naik 8,2 persen dari Februari 2018 (12.425,75 dolar AS per dmt). Harga kobalt ditetapkan senilai 80.797,62 dolar per dmt atau naik 6,2 persen (76.075 dolar per dmt). Sedangkan timbal mencatatkan kenaikan dua persen dari 2.552,03 dolar per dmt menjadi 2.602,88 dolar per dmt.

Kenaikan cukup tinggi juga terjadi pada komoditas seng, naik sebesar 4,3 persen dari dolar 3.363,7 per dmt menjadi 3.524,83 dolar per dmt. Mangan kenaikannya sebesar 11, 3 persen dari 5,3 dolar per dmt menjadi 5,9 dolar per dmt. Meski hanya naik 0,2 persen, HMA aluminium naik dari 2.194,93 dolar per dmt menjadi 2.199,57 dolar per dmt.

Namun, komoditas tembaga mengalami penurunan dibanding bulan Februari, turun sebesar 1,3 persen dari 7.095,83 dolar AS per dmt menjadi 7.004,4 dolar per dmt.

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA