Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Bank Syariah Mandiri Bukukan Laba Bersih Rp 365 Miliar

Kamis 08 Mar 2018 16:26 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Teguh Firmansyah

Bank Syariah Mandiri

Bank Syariah Mandiri

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pertumbuhan laba itu terutama berasal dari peningkatan margin bagi hasil bersih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Mandiri membukukan laba bersih senilai Rp 365 miliar pada 2017. Angka tersebut naik 12,22 persen (yoy) dibandingkan perolehan laba bersih pada 2016 yang sebesar Rp 325 miliar.

Direktur Utama BSM, Toni EB Subari mengatakan, sedianya, laba operasi sebelum penyisihan BSM tumbuh 42,93 persen (yoy) dari Rp 1,61 triliun pada 2016 menjadi Rp 2,3 triliun pada 2017.  "Tapi ada strategi internal untuk memperkuat cadangan sehingga laba bersih tumbuh 12,22 persen menjadi Rp 365 miliar," kata Toni dalam Paparan Kinerja BSM Tahun 2017 di Jakarta, Kamis (8/3).

Direktur Keuangan dan Strategi BSM, Ade Cahyo Nugroho, menjelaskan, pertumbuhan laba bersih tersebut terutama berasal dari peningkatan margin bagi hasil bersih dan fee based income yang pada 2017 naik Rp 701 miliar atau secara tahunan tumbuh 14,35 persen menjadi Rp 5,58 triliun.

 

Margin bagi hasil bersih tumbuh sebesar Rp 617 miliar atau15,35 persen (yoy) menjadi Rp 4,64triliun pada 2017 dibandingkan Rp 4,02 triliun pada 2016. "Pertumbuhan Margin Bagi Hasil Bersih tersebutdidorong olehpertumbuhan pembiayaan dan perbaikan kolektibilitas pembiayaan," jelas Ade Cahyo.

Sedangkan pendapatan berbasis biaya (Fee Based Income) tumbuh 9,67 persen (yoy) dari Rp 860 miliar pada 2016 menjadi Rp 943 miliar pada 2017. Di sisi lain, perusahaan dapat mengendalikan biaya overhead sehingga hanyanaik0,26 persen.

Pertumbuhan pendapatan bersih tersebut bersumber dari pertumbuhan aset dan pengendalian biaya. "Pengendalian biaya tercermin dari cost to income ratio yang turun menjadi 52,84 persen pada 2017 dari 61,19 persen pada 2016," ungkapnya.

Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan BSM terbilang moderat, tumbuh sebesar 9,2 persen (yoy). Selama ini, BSM lebih fokus pada segmen ritel yang tumbuh sebesar 11,48 persen (yoy) menjadi Rp 60,69 triliun dibandingkan posisi 2016 sebesar Rp 55,58 triliun.

 

Segmen ritel terdiri atas pembiayaan di bidang Konsumer, Pawning, dan UMKM. Adapun pembiayaan segmen corporate tumbuh 5,50 persen (yoy) semula Rp 24,77 triliun menjadi Rp 26,13 triliun. Untuk korporat, Mandiri Syariah membidik sector korporat Murni terutama terkait infrastruktur, BUMN, pendidikan, perkebunan, kesehatan dan supply chain. Untuk pembiayaan segmen UMKM, Mandiri Syariah memiliki portofolio sebesar 21,77 persen.

Sedangkan segmen wholesale banking yang terdiri dari korporasi dan komersial hanya tumbuh 5,5 persen (yoy) menjadi Rp 26,12 triliun dari sebelumnya Rp 24,76 triliun. Untuk korporasi, Mandiri Syariah membidik sektor korporasi Murni terutama terkait infrastruktur, BUMN, pendidikan, perkebunan, kesehatan dan supply chain.

"Pertumbuhan pembiayaan tersebut diimbangi dengan perbaikan kualitas pembiayaan yang tercermin dari penurunan NPF Nett turun dari 3,13 persen menjadi 2,71 persen dan NPF gross turun menjadi 4,53 persen dari sebelumnya 4,92 persen," ujar Ade Cahyo.

Direktur Distribusi dan Servis BSM, Edwin Dwidjajanto, menambahkan, sampai akhir 2017, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun Bank Syariah Mandiri berhasil tumbuh sebesar 11,37 persen (yoy) atau meningkat sebesar Rp 7,95 triliun dari Rp 69,95triliun per Desember 2016 menjadi Rp 77,90 triliun pada Desember 2017.

Dari total dana tersebut sebesar 51,80 persen atau Rp 40,36 triliun merupakan dana murah (low cost fund) yang tumbuh 16,36 persen dibandingkan periode yang sama pada Desember 2016 yang sebesar Rp 34,68 triliun.Komposisi dana murah meningkat dari 49,58 persen di Desember 2016 menjadi 51,80 persen di Desember 2017.

Pertumbuhan dana murah tersebut ditopang oleh Tabungan yang naik 13,13 persen menjadi Rp 31,39 triliun per Desember 2017 dari semula Rp 27,75 triliun per Desember 2016. Giro naik sebesar29,31 persen (yoy) menjadi Rp 8,96 triliun per Desember 2017 dibandingkan Desember 2016 sebesar Rp 6,93 triliun.

Sementara Deposito tidak terlalu dikejar karena BSM lebih memprioritaskan dana murah. Deposito hanya tumbuh 6,46 persen menjadi Rp 37,54 triliun dari sebelumnya Rp 35,26 triliun. "Strategi penghimpunan dana ke depan adalah dengan terus meningkatkan komposisi dana murah yaitu tabungan dan girountuk menekan cost of fund,"ucap Edwin.

Peningkatan DPK mendorong aset Bank Syariah Mandiri per Desember 2017 naik 11,55 persen (yoy) menjadi Rp 87,94triliun dibandingkan sebesar Rp 78,83triliun per posisi Desember 2016.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA