Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Kabul, Afghanistan (1)

Kamis 08 Mar 2018 08:39 WIB

Red: Elba Damhuri

Azyumardi Azra

Azyumardi Azra

Foto: Republika
Afghanistan terkoyak konflik dan perang selama lebih dari 40 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Azyumardi Azra

Kabul, Afghanistan, pengujung Februari 2018. Langit cerah sejak pesawat memasuki Anak Benua India. Sebagian besar daratan Bangladesh, India, dan Pakistan terlihat abu-abu kecokelatan. Melintasi Pakistan memasuki wilayah Afghanistan, hampir tidak terlihat bumi yang menghijau.

Sebagian puncak pegunungan masih terselimuti salju. Menjelang mendarat, yang terlihat adalah gunung dan bukit kecokelatan; tidak terlihat kehijauan tetumbuhan dan pepohonan—sejumputan pohon meranggas menunggu musim semi.

Lanskap Kabul atau sebagian besar Afghanistan kontras dengan tanah air Indonesia. Jika langit cerah, di kebanyakan bandara manapun, yang terlihat kehijauan tetumbuhan, pohon, hutan, dan persawahan. Dengan begitu, bumi Indonesia bukan tidak mirip dengan gambaran surga di dalam Al-Qur’an: taman menghijau, bebuahan yang ranum, lengkap dengan gemericik air sungai.

Syukur dan bersyukur atas nikmat Allah SWT pada Indonesia. Bukan hanya atas anugerah bumi dan laut yang indah dan kaya, melainkan juga karena harmoni dan kerukunan suku-suku bangsa, sosial-budaya, dan agama yang begitu beragam—kekayaan atau aset yang dapat menjadi liabilities, potensi konflik jika tidak disikapi secara arif dan bijaksana.

Namun, berkat kearifan warga, Indonesia tidak pernah dilanda perang antarsuku atau antaragama yang lama dan luas. Jika ada konflik komunal (agama dan suku), itu terbatas dan berlangsung relatif singkat.

Kabul. Inilah ibu kota negara Islam Afghanistan. Kontras dengan Indonesia, Afghanistan terkoyak konflik dan perang yang melibatkan berbagai kekuatan dalam negeri dan asing selama lebih 40 tahun. Sejauh ini, juga belum terlihat tanda-tanda meyakinkan bahwa konflik dan kekerasan yang telah mengorbankan ratusan ribu penduduk berakhir; dan sebaliknya perdamaian dan kedamaian dapat tercipta.

Kabul. Memasuki ibu kota ini, suasana sekuriti sangat ketat. Polisi dan tentara dengan persenjataan berat beserta tank juga dapat dilihat di mana-mana. Gedung-gedung pemerintah, properti swasta, dan kompleks kedutaan tak ubah seperti benteng dengan pagar beton tebal dan tinggi. Jalan raya juga dipenuhi banyak blokade atau rintangan dengan tembok beton tinggi dan tebal untuk mengantisipasi kendaraan yang membawa bom bunuh diri, misalnya.

Kabul, kota yang muram dan kusam. Bagian kota lama—mulai berkembang sejak 1700-1100 SM—di mana Istana Harim Sarai, tempat raja-raja Afghanistan pernah berdiam dan kini menjadi kantor presiden, dan kedutaan besar negara asing berlokasi, hampir tidak ada bangunan baru. Kebanyakan bangunan berlantai satu yang kebanyakan seperti kedai yang semrawut, berantakan, dan suram.

Itulah pertanda paling telanjang dari konflik, kekerasan, dan perang yang tidak pernah berhenti melanda Kabul dan pelosok lain Afghanistan dalam 40 tahun terakhir. Konflik dan perang persis bermula sejak 1978 ketika pada 28 April 1978, Presiden Muhammad Daud Khan dan seluruh anggota keluarganya dibunuh kelompok paramiliter pro Uni Soviet di bawah pimpinan Nur Muhammad Taraki.

Taraki kemudian mengambil alih kekuasaan sebagai presiden sampai dia juga dibunuh pada September 1979 oleh rivalnya, Hafizullah Amin. Yang terakhir ini pada gilirannya dibunuh dinas intelijen Soviet; dan pada 24 Desember 1979 Soviet menduduki Kabul dan seluruh wilayah Afghanistan lain.

Sulit membayangkan adanya kota semacam Kabul di tempat lain, kecuali agaknya di wilayah konflik dan perang semacam Irak, Suriah, atau Yaman. Jelas, tidak ada padanan suasana konflik dan perang seperti di Kabul dengan wilayah manapun di Indonesia—bahkan di daerah yang dulu pernah ada konflik semacam Aceh, Poso, atau Papua.

Penduduk Kabul (kini sekitar 2,6 juta jiwa) tampak sudah terbiasa dengan konflik dan perang berkelanjutan. Di wilayah kota lama Kabul, banyak warga terlihat di pinggir jalan—tampaknya tidak punya pekerjaan. Lebih banyak lagi warga berkerumun di bazar—menjual dan membeli berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Jalanan di lingkungan bazar macet parah karena sulit mencari alternatif jalan lain yang kebanyakan diblokir aparat keamanan.

Pemandangan sedikit berbeda terlihat di Kabul baru—di sebelah timur Kabul lama. Di kawasan ini, terdapat gedung-gedung baru yang sebagiannya cukup jangkung antara lima sampai 10 lantai. Toko dan kedai juga lebih rapi; tidak terlihat bazar besar di mana warga berkerumun.

Kawasan Kabul baru ini memiliki makna penting bagi Indonesia dan Afghanistan. Di kawasan ini, persisnya Ahmad Shah Baba Mina, adalah lokasi tempat berdirinya Masjid as-Salam, bagian dari Indonesian Islamic Center (IIC) Kabul yang diresmikan Menlu Retno LP Marsudi, 9 Agustus 2016. Berlokasi di kawasan di mana masjid lingkungan lain susah ditemukan, kehadiran Masjid as-Salam sangat strategis dan penting.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA