Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Indonesia Perlu Tangkap Peluang Ekspor Sedan

Kamis 22 Feb 2018 18:45 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Dwi Murdaningsih

Mobil Sedan Peugeot 207

Mobil Sedan Peugeot 207

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Penurunan pajak sedan mampu meningkatkan saya saing produk otomotif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil sedan dapat meningkatkan daya saing produk otomotif Indonesia. Ia mengaku, hal itu penting guna meningkatkan kinerja ekspor.

"Semestinya kita bisa menangkap peluang pasar sedan di luar negeri kalau kita punya daya saing bagus," ujar Faisal ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis (22/2).

Seperti diketahui, Kementerian Perindustrian tengah mengejar revisi struktur perpajakan dari industri otomotif untuk kendaraan jenis sedan. Saat ini produksi sedan dalam negeri kurang bergairah karena aturan pajak yang membuat harga jualnya melambung. Sedan kecil dengan silinder kurang dari 1.500 cc dikenakan tarif PPnBM sebesar 30 persen. Sementara, mobil penumpang serbaguna dengan kapasitas mesin yang sama dikenakan pajak 10 persen.

Indonesia Hanya Mampu Ekspor Satu Tipe Sedan

Faisal mengaku, pasar mobil sedan di luar negeri lebih besar dibandingkan di dalam negeri yang lebih didominasi mobil jenis SUV maupun MPV. "Kalau di luar negeri itu memang lebih banyak sedan. Makanya Thailand itu bisa bagus ekspornya karena dispesifikasikan ke sedan," ujar Faisal.

Meski terjadi penurunan tarif pajak, menurut Faisal, hal itu akan bermanfaat guna meningkatkan gairah produksi sedan di tanah air. Ia mengaku, hal itu juga dapat menggenjot kinerja ekspor otomotif Indonesia.

"Saya kira manfaatnya jauh lebih besar daripada sisi pengurangan pajaknya," ujar Faisal.

Akan tetapi, ujar Faisal, permasalahan industri manufaktur termasuk otomotif di Indonesia bukan hanya soal perpajakan. Ia mengaku, masih terdapat permasalahan kompleks seperti biaya energi yang tinggi, ketidakjelasan kewenangan, dan kebijakan perdagangan. Menurutnya, hal itu menghambat peningkatan daya saing produk manufaktur Indonesia.

"Ekosistem perlu diperbaiki. Kalau hanya PPnBM tentu itu belum optimal karena masih banyak biaya-biaya lain yang belum efisien," ujar Faisal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA