Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Ilmuwan Selidiki Terjadinya Aurora

Jumat 16 Feb 2018 09:24 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Dwi Murdaningsih

Aurora

Aurora

Foto: nasa.gov
Aurora menunjukkan pertunjukkan cahaya yang indah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmuwan mempelajari penyebab terjadinya aurora. Aurora adalah partikel yang mengalir dari matahari yang bertabrakan dengan magnetosfer bumi. Dengan interaksi dari gas yang berbeda, aurora muncul dengan warna hijau, merah dan ungu yang tampak menari melintasi langit. Pemandangan yang cantik.

Pertunjukkan cahaya yang luar biasa ini dikenal dengan Northern dan Southern Lights yang sering muncul di langit kutub bumi. Namun sampai saat ini proses aurora belum pernah diobsesi secara langsung.

Akhirnya, para ilmuwan berhasi mengungkap wawasan baru tentang mekanisme dibalik fenomena aurora. Mereka menggunakan sensor di luar angkasa pesawat antariksa Arase dari Badan Antariksa Jepang. Mereka meneliti salah satu jenis aurora yang muncul saat fajar.

photo
Salah satu akun Twitter yang memuat foto Aurora Australis, Selasa (17/3)

Para ilmuwan menemukan interaksi antara elektron dan gelombang plasma yang menyebabkan aurora muncul. "Alas aurora disebabkan oleh konfigurasi ulang secara global di magnetosfer, yang melepaskan energi angin matahari yang tersimpan," kata profesor Departemen Ilmu Bumi dan Planet di Universitas Tokyo, Satoshi Kasahari.

"Fenomena ini ditandai dengan aurora yang cerah mulai senja hingga tengah malam, diikuti oleh gerakan kasar dari busur aurora yang berbeda dan akhirnya pecah. Dari sana muncul tambalan auroral yang muncul saat fajar," lanjutnya.

Tim ilmuwan mengembangkan sensor khusus yang berada di atas satelit Exploration of energization and Radiation in Geospace (ERG) atau Arase. Dengan ini, ilmuwan dapat mengamati interaksi elektron aurora yang digerakkan gelombang paduan suara. "Kami, untuk pertama kalinya, secara langsung mengamati hamburan elektron dengan gelombang paduan suara yang menghasilkan endapan partikel ke atmosfer bumi," kata Kasahara.

"Fluks elektron yang diendapkan cukup kuat untuk menghasilkan aurora yang berdenyut. Dengan menganalisis data dari Arase secara lebih komprehensif, kami akan mengungkapkan variabilitas dan rincian lebih lanjut tentang fisika plasma dan menghasilkan fenomena atmosfer seperti aurora," kata Kasahara.

Seperti dilansir dari laman Daily Mail, badai matahari diperkirakan akan sampai ke bumi pada Jumat (16/2). Dari badai tersebut dapat berpotensi untuk memicu aurora yang menakjubkan di daerah garis lintang tinggi.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA