Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Kepala BIN: Penyerangan Pemuka Agama Bentuk Kampanye Hitam

Kamis 15 Feb 2018 15:29 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Bilal Ramadhan

Kampanye Hitam (ilustrasi)

Kampanye Hitam (ilustrasi)

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Kampanye hitam berwujud isu PKI, agama dan SARA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Intelijen Negra (BIN) Budi Gunawan menilai, sejumlah kasus penyerangan terhadap pemuka agama yang terjadi beberapa waktu terakhir merupakan salah satu dari kampanye hitam menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 maupun Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Dia menyebut BIN sudah memprediksi dan mendeteksi bahwa kampanye hitam ini akan terjadi di tahun politik.

"Seluruh jajaran intelijen sudah memprediksi bahwa di tahun politik ini, 2018 sampai 2019 akan marak kampanye hitam, wujudnya isu-isu PKI, isu agama, dan isu SARA," ujar Budi ketika ditemui di Kantor Wakil Presiden, Kamis (15/2).

Budi mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan tidak mudah dipolitisasi serta diprovokasi oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan tertentu. Masyarakat juga diminta tidak mudah terhasut sehingga terseret dalam permainan oknum tertentu.

"Masyarakat harus lebih waspada, lebih peka, jangan mudagh terpolitisasi, terprovokasi, dan terhasut sehingga terseret dalam permainan itu," kata Budi.

Budi mengatakan, penyerangan yang terjadi terhadap pemuka agama kasusnya berbeda satu sama lain. Dia mengingatkan, di tahun politik ini banyak oknum yang menggunakan kejadian penyerangan tersebut sebagai alat untuk membuat keresahan di masyarakat sehingga timbul adu domba.

"Memprovokasi juga mungkin untuk kepentingan politik, ini yang harus waspada jangan mudah terpancing, kepada masyarakat juga jangan terprovokasi, harus jernih," ujar Budi.

Beberapa waktu terakhir, terdapat sejumlah serangan terhadap pemuka agama. Serangan pertama menimpa pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1). Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis).

Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan. Kemudian ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tak dikenal.

Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau. Terakhir, pada Ahad (11/2), pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA