Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Trump: Rudal Korut Ancam Negara Kita

Rabu 31 Jan 2018 13:57 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Ketegangan di Semenanjung Korea belum usai.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) DonaldTrump kembali memperingatkan rakyatnya bahwa program rudal nuklir Korea Utara (Korut) sangat mengancam AS. Oleh sebab itu, AS akan melanjutkan kampanye guna memberi tekanan maksimum kepada Korut.

Dalam pidato kenegaraan pertamanya di Kongres AS pada Selasa (30/1), Trump mengatakan, kendati baru-baru ini terjalin pembicaraan antara Korut dan Korsel untuk membahas perhelatan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang, namun ketegangan di Semenanjung Korea tak luruh begitu saja.

Menurut Trump, Korut tetap akan mengembangkan rudal dan nuklirnya yang telah digadang-gadang akan digunakan untuk menyerang AS. Pengejaran proyek rudal nuklir Korut dengan sembrono bisa segera mengancam tanah air kita. "Kita sedang melakukan kampanye tekanan maksimal untuk mencegah hal itu terjadi," ujar Trump.

 

photo
Peluncuran rudal korut.


"Kita hanya perlu melihat karakter buruk rezim Korutuntuk memahami sifat ancaman nuklir yang dapat ditujukannya ke Amerika dansekutu kita," kata Trump menambahkan.

 

Baca juga, Korut Siap Berperang dengan Amerika Serikat.

 

Awal bulan ini Korut meminta Korsel menghentikan latihan militer gabungannya dengan Amerika Serikat (AS). Korut menyatakan latihan militer gabungan tersebut merupakan penyebab utama meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.

"Jika Pemerintah Korsel benar-benar menginginkan perdamaian, mereka harus terlebih dulu menghentikan semua tindakan militer yang mereka lakukan dengan AS," tulis surat kabar Partai Pekerja Korut Rodong Sinmun dalam tajuknya.

Menurut Rodong Sinmun, persenjataan dan latihan militer bersama skala besar, yang dirancang untuk mengancam serta menyerang Korut, merupakan sumber utama ketegangan antar-Korea. Hal tersebut mendorong situasi di Semenanjung Koreakian tak terprediksi dan berbahaya.

"Kedua Korea tidak dapat menghilangkan ketidakpercayaan dan konfrontasi, dan bergerak menujupenyatuan, di bawah tekanan militer yang terus menerus," tulis Rodong Sinmun yang mencerimkan kebijakan pemerintah Korut.

Permintaan Korut ini diutarakan setelah kedua negara menggelar perundingan tingkat tinggi dizona demiliterisasi Korea. Selain membahas tentang partisipasi Korut dalam Olimpiade Musim Dingin PyeongChang, perundingan tersebut pun sempat menyinggung tentang deeskalasi militer di Semenanjung Korea.

Perundinganini dapat dilaksanakan setelah Korsel dan AS sepakat untuk menangguhkan latihanmiliter gabungan mereka hingga Olimpiade Musim Dingin PyeongChang selesai dihelat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA