Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Detik-Detik Ketika Kantor Save the Children Diserang

Kamis 25 Jan 2018 11:06 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Teguh Firmansyah

Tentara keamanan Afghanistan berjaga di lokasi bekas ledakan bom. (ilustrasi)

Tentara keamanan Afghanistan berjaga di lokasi bekas ledakan bom. (ilustrasi)

Foto: EPA/Hedayatullah Amin
Save the Children tangguhkan program di Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID, JALALABAD -- Kelompok ekstremis negara Islam Irak Suriah (ISIS) kembali melancarkan serangan ke sebuah kantor organisasi kemanusiaan asal Inggris, Save The Children. Serangan itu merupakan realisasi dari ancaman ISIS yang membidik institusi asal Inggris, Swedia dan Afganistan di Jalalabad.

Seperti diwartakan BBC, Kamis (25/1) serangan diluncurkan sekitar pukul 09.10 waktu setempat. Kelompok ekstremis menggunakan bom mobil yang diledakan di depang pintu masuk markas organisasi kemanusiaan tersebut. Namun satu orang saksi mata mengaku melihat kelomlok itu memakai pelontar roket (RPG) untuk menyerang gerbang.

"Sebuah ledakan mengguncang area dan setelahnya warga dan anak-anak mulai berlarian. Saya melihat sebuah mobil terlibat dalam baku tembak setelahnya," kata seorang saksi mata kepada Reuters.

Militer bersama kepolisian Afganistan kemudian berhasil memukul mundur pelaku serangan tersebut. Otoritas setempat juga mengatakan, kelima pelaku serangan itu berhasil dilumpuhkan. Tiga warga sipil dan satu personel militer Afganistan tewas dalam serangan tersebut.

Meski demikian, organisasi kemanusiaan tersebut kemudian menangguhkan program mereka di Afganistan. Mereka mengaku terkejut sekaligus takut akan kekerasan yang ditujukan terhadap kelompok bantuan kemanusiaan. Meski menagguhkan operasional di seluruh negara, organisasi tersebut mengaku tetap berkomitmen untuk terus membantu sekitar 700 ribu anak menderita di Afganistan.

Sementara berdasarkan catatan pasukan pengamanan bantuan kemanusiaan di Afganistan, lebih dari 450 relawan dibunuh, disiksa atau ditangkap oleh kelompok ekstrimis. Angka itu didapat dari catatab sejak 1997 hingga 2014 lalu.

Kelompok ekstremis seperti ISIS atau Thaliban melihat mereka sebagai representasi negara barat sehingga patu untuk diserang. Menurunnya bantuan dan rekawan kemanusiaan artinya semakin sedikit orang Afghanistan yang dapat mengandalkan layanan vital yang disediakan oleh badan amal, terutama di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau pemerintah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA