Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Serikat Pekerja Garuda Sampaikan Tuntutan Ini ke Direksi

Rabu 24 Jan 2018 01:02 WIB

Red: Nur Aini

Pesawat Garuda (ilustrasi).

Pesawat Garuda (ilustrasi).

Foto: Republika/ Wihdan
Direksi diminta ganti dari profesional internal perusahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serikat Pekerja Garuda Indonesia Bersatu yang terdiri dari Serikat Karyawan dan Asosiasi Pilot Garuda meminta Menteri BUMN mengganti direksi dengan profesional dari internal perusahaan.

Ketua Umum Serikat Pekerja Garuda Indonesia (Sekarga) Ahmad Irfan, menilai terjadi pemborosan biaya karena jumlah direksi yang banyak. Saat ini direksi Garuda diisi sembilan orang dari sebelumnya hanya enam orang.

"Kami meminta Menteri BUMN dan pemegang saham Garuda untuk mengevaluasi kinerja direksi saat ini dan melakukan pergantian direksi dengan mengutamakan direksi yang profesional yang berasal dari internal Garuda," kata Irfan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/1).

Ia menilai dengan banyaknya jumlah direksi di bawah kepemimpinan Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury, mengakibatkan banyak kebijakan yang tumpang tindih. Menurut dia, dengan kinerja keuangan Garuda yang makin merosot tercatat kerugian sebesar 207,5 juta dolar AS pada Kuartal III-2017, penambahan direksi tersebut tidak sejalan dengan komitmen perusahaan dalam melakukan efisiensi.

Selain itu, posisi Direktur Kargo juga dinilai tidak memberi perubahan signifikan terhadap pendapatan, apalagi Garuda bukan perusahaan penerbangan khusus kargo. "Tadinya di 'airlines' ada Dirut, Direktur Teknik, Operasi, Komersial, Keuangan dan Personalia. Ini yang biasa ada di 'airlines' besar dunia. Garuda sudah rugi, nambah direksi," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Asosiasi Pilot Garuda (APG) Bintang Hardiono menyampaikan keprihatinannya ketika maskapai penerbangan milik nasional tersebut mengalami penundaan "delay" berkali-kali, terutama saat puncak liburan (peak season).

Penundaan tersebut karena adanya perubahan sistem pengelolaan sumber daya manusia sehingga mengakibatkan kacaunya jadwal terbang kru penerbang. Menurut dia, pengelolaan SDM akan lebih baik jika dilakukan oleh manajemen yang mengetahui bisnis penerbangan.

"Garuda ini dikelola oleh orang yang tidak tahu 'airline business' akhirnya tidak bisa mengelola SDM dengan baik. Kalau orang Garuda yang tahu masalah penerbangan, mungkin tidak seperti ini," kata Bintang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA