Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Dr Sardjito Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Selasa 23 Jan 2018 08:19 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Winda Destiana Putri

Prof Dr M. Sardjito, MPH

Prof Dr M. Sardjito, MPH

Pada masa revolusi fisik, Sardjito menyuplai obat-obatan kepada gerilyawan.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Puluhan foto yang memuat sosok Dr. Sardjito dipamerkan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM). Pameran foto yang diselenggarakan sejak Senin (22/1) itu akan terus dilaksanakan sampai Kamis (25/1) mendatang.

Pameran foto ini diselenggarakan sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan sosok Dr Sardjito, yang mengabdikan dirinya untuk perjuangan. Mulai merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, termasuk dengan mendirikan UGM sebagai universitas nasional pertama.
 
"Perjuangan yang ditempuh Sardjito pada awal kemerdekaan merupakan hal yang sangat luar biasa, karena itu kita perlu lebih mengenal sosok beliau melalui pameran ini," kata Rektor UGM, Panut Mulyono, saat membuka pameran itu, Senin (22/1).
 
Dalam pameran ini, ditampilkan sebanyak 34 foto, beberapa dokumen penelitian dan penghargaan kepada Dr Sardjito. Selain itu, ada video risalah Sardjito yang merangkum catatan perjalanannya sebagai seorang pejuang, ilmuwan dan budayawan.
 
Panut memaparkan, sosok dokter yang lahir di Kabupaten Magetan 13 Agustus 1891 tersebut menunjukkan peran yang besar dalam revolusi fisik dan pendidikan di Indonesia. Berbagai dokumen sejarah dan piagam penghargaan atas namanya jadi sebagian bukti perjuangan beliau.
 
"Foto-foto ini menampilkan betapa besar kontribusi beliau, sehingga layak apabila beliau kita usulkan sebagai pahlawan nasional," ujar Panut.
 
Dokter lulusan Sekolah Stovia Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam ini memang cukup banyak terlibat dalam perjuangan kebangsaan. Pada masa revolusi fisik, Sardjito menyuplai obat-obatan kepada gerilyawan walau harus menembus medan perang.
 
Selain itu, lanjut Panut, Dr Sardjito turut membuat berbagai vaksin anti infeksi untuk para pejuang dan tentara Indonesia. Berkat kegigihan Dr Sardjito, banyak pejuang Indonesia yang terselamatkan.
 
Sebagai seorang dokter, Dr Sardjito telah melakukan berbagai penelitian penting terkait berbagai penyakit. Calcusol sebagai obat batu ginjal jadi dedikasi lain Sardjito untuk kesehatan masyarakat.
 
Semantara itu, dedikasinya dalam bidang pendidikan terlihat dalam pendirian UGM yang kemudian melahirkan cendekiawan dan ilmuwan yang bekerja bagi kepentingan nasional. Panut menilai, perjuangan itu sangat luar biasa.
 
"Perjuangan beliau di bidang pendidikan sangat luar biasa, dan melaluinya, kemudian muncul tokoh-tokoh di bidang sains, teknologi, seni dan bidang lain yang dihasilkan UGM yang berperan besar melanjutkan perjuangan mencapai kesejahteraan Indonesia," kata Panut.
 
Atas kontribusi itu, Dr Sardjito menerima beragam penghargaan mulai Bintang Gerilya, Bintang Mahaputra tingkat III, Satya Lancata Pejuang Kemerdekaan, sampai Bintang Kehormatan tingkat II. Tahun ini, Dr Sardjito turut diusulkan menjadi pahlawan nasional.
 
Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof Sutaryo menilai, Sardjito merupakan ilmuwan pejuang dan pejuang keilmuwan. Karenanya, melalui pameran foto, seminar, dan pengusulan sebagai pahlawan nasonal, lebih banyak masyarakat yang mengenal sosok Sardjito.
 
Menurut Sutaryo, sosoknya merupakan teladan karena meneruskan perjuangan, dan dedikasinya untuk bangsa Indonesia. Sebenarnya, pada 2012 lalu, Sardjito pernah diusulkan sebagai pahlawan nasional.
 
"Besok Kamis kita mengadakan seminar regional untuk kembali memperjuangkan Sardjito sebagai pahlawan nasional," kata Sutaryo.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA