Friday, 25 Jumadil Akhir 1443 / 28 January 2022

Jatuh Bangun Kesultanan Delhi di India

Sabtu 20 Jan 2018 12:58 WIB

Rep: hasanul rizqa/ Red: Muhammad Subarkah

Pasukan kesultanan Delhi.

Pasukan kesultanan Delhi.

Foto: wikipedia.com
Rakyat dapat diam-diam membuat koin sendiri dari bahan yang mereka miliki.

REPUBLIKA.CO.ID, Terbentuknya Kesultanan Delhi (1206-1526) mengawali kukuhnya pengaruh Islam di Anak Benua India sejak abad ke-13. Ada lima dinasti yang mengisi imperium ini, yaituMamluk (1206-1290), Khalji (1290-1320), Tughluq (1320-1414), Sayyid (1414-1415), dan Lodi (1451-1526). Pendiri Kesultanan Delhi sekaligus yang mengawali Dinasti Mamluk adalah Qutb al-Din Aibak, bekas budak Sultan Ghurid, Muizzuddin Muhammad. Nama Mamluk dalam bahasa Arab berarti yang-dimiliki atau budak.

Setelah Aibak wafat pada 1210, kekisruhan sempat terjadi karena belum ada ketentuan yang mengatur pergantian kekuasaan Dinasti Mamluk. Alhasil, Aram Shah, yang disebut-sebut sebagai putra Aibak, menjadi sultan berikutnya.

Namun, kekuasaannya hanya berjalan satu tahun karena ia dibunuh Syamsuddin Iltutmish. Dalam era Iltutmish, Dinasti Mamluk mulai menyapu India utara.

Iltutmishmenjalankan kekuasaan dengan tangan besi. Di antara warisan pentingnya adalah pembagian administrasi menjadi beberapa provinsi yang dibawahi seorang qadhi. Dia juga mendirikan Madrasah Firoziyya sebagai pusat intelektual di Uch (kini bagian provinsi Punjab, Pakistan). Pemberlakuan koin yang khas Muslim mulai digalakkan demi menanggulangi peredaran mata uang buatan penguasa Hindu di India selatan. Mata uang Dinasti Mamluk ini masih merujuk pada kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad, seperti tergurat pada permukaan koinnya.

Iltutmish hendak mewariskan kekuasaan kepada Nasiruddin Mahmud. Namun, putra tertuanya itu lebih dahulu wafat pada 1229. Radiyya akhirnya dipilih Iltutmish untuk meneruskan takhtanya.Perempuan tersebut merupakan menantunya sendiri atau istri dari almarhum Nasiruddin Mahmud.

Pada 1236, Iltutmish meninggal dunia. Dinasti Mamluk kembali bergejolak. Tampuk kekuasaan direbut Muizuddin Bahram setelah Radiyya tewas dalam pengepungan yang dipimpin saudara tirinya itu pada 1240. Namun, Bahram ternyata tidak cakap memimpin sehingga pertahanan Punjab dan Lahore dapat diserbu tentara Mongol. Mulai muncul konspirasi elite di istana bernama Chihalgani.

Pada 1242, Bahram dihukum mati dalam kisruh di istana. Sultan berikutnya, Alauddin Masud, tidak lain merupakan pemimpin boneka yang tunduk pada Chihalgani. Akibat memberontak, dia kemudian diganti dengan sepupunya, Nasiruddin Mahmud. Sultan kedelapan Dinasti Mamluk ini justru menjauhi istana. Dialebih suka hidup bagaikan sufi yang zuhud.

Ghiyatsuddin Balban, yang awalnya wakil Nasiruddin Mahmud, lalu menjadi sultan kesembilan. Balban memerintah dengan otoriter. Dia mencoba untuk meruntuhkan pengaruh Chihalgani di istana. Pada 1287, kekuasaannya beralih pada Muizuddin Qaiqabad. Pemuda 17 tahun itu memilih Jalaluddin Firuz Khalji sebagai panglima pasukan untuk mengakhiri dominasi Chihalgani. Namun, Khalji justru menusuk Qaiqabad dari belakang sehingga mengakhiri Dinasti Mamluk sekaligus memulai dinasti baru.

Dinasti Khalji berlangsung cukup singkat, yakni 30 tahun saja. Meskipun begitu, wilayah kekuasaannya mencakup hampir seluruh pesisir barat Anak Benua India (kecuali Kerala). Batasnya dimulai dari lembah Sungai Indus di barat, lalu ke arah selatan hingga Tamil Nadu dan Paradesh. Para sultan Dinasti Khalji dapat menyingkirkan invasi Mongol yang datang dari utara India. Namun, politik dalam negeri masih bergejolak. Penguasa terakhir Dinasti Khalji, Khusraw Khan, takluk lalu dihukum mati komandan militer Punjab, Ghazi Malik. Ini terjadi lantaran dukungan para tuan tanah di Delhi.

Malik mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Sultan Ghiyatsuddin Tughluq. Sejak saat itu, dimulailah Dinasti Tughluq dalam sejarah Kesultanan Delhi.

Pada 1325, pendiri Dinasti Tughluq tersebut meninggal dunia akibat dibunuh anaknya yang ambisius, Muhammad (Ulugh Khan). Penguasa baru ituberhasil menaklukkan dua kerajaan Hindu, Arangal dan Tilang, sehingga memuluskan jalan Dinasti Tughluq untuk menguasai mayoritas Anak Benua India.

Ulugh Khan memerintah dengan kejam dan agresif. Lokasi ibu kota dipaksanya pindah dari Delhi ke Deogiri (kini Daulatabad). Migrasi besar-besaran penduduk Delhi menyebabkan pertumbuhan yang signifikan populasi Muslim di India tengah dan selatan.

Ulugh Khan juga begitu serampangan menjaga ekonomi negerinya. Akibat pengeluaran yang sangat besar untuk kampanye militer, kas kerajaan terkuras. Dia lantas memerintahkan pembuatan koin dari bahan logam tetapi dengan nilai perak.

Tentu saja, rakyat dapat diam-diam membuat koin sendiri dari bahan yang mereka miliki. Inflasi menjadi tak terkendali.

Sampai pada kematian Ulugh Khan pada 1351, Dinasti Tughluq dapat dikatakan hampir bangkrut. Wilayahnya menciut hingga tersisa pada India tengah.

Dinasti Tughluq selanjutnya dipimpin Firuz Shah. Para simpatisan Ulugh Khan yang tersisa dibunuhinya. Dia sendiri kemudian memimpin dengan tegas sehingga politik dalam negeri cenderung stabil. Tujuannya memulihkan wilayah kekuasaan bani Tughluq yang sempat merajai mayoritas India.

Untuk itu, dia membangun banyak infrastruktur, seperti sekolah, jembatan, dan masjid. Kalangan tentara juga diperbaiki nasibnya agar dapat menggempur kerajaan-kerajaan tetangga. Situasi politik keamanan yang cukup stabil berakhir ketika dia menua. Enam tahun pasca-wafatnya Firuz Shah pada 1388, perang saudara pun pecah.

photo
Tentara kesultanan Delhi.
Selama dua dasawarsa berikutnya, guncangan politik menyebabkan Kesultanan Delhi rapuh terhadap serangan dari luar. Benar saja. Memanfaatkan situasi yang kacau balau, balatentara Timur Lenk mulai menyerbu India utara pada 1398.

Dinasti Tughluq tidak bisa berbuat banyak. Kota Multan jatuh ke tangan cucu Timur Lenk, Pir Muhammad, yang lantas menunjuk Khizr Khan sebagai gubernurnya. Di tahun yang sama, Delhi pun berhasil ditaklukkan.

Khizr menempatkan kalangan keturunan Nabi Muhammad SAW (sayyid) sebagai penguasa Delhi. Sejak pasukan Timur Lenk meninggalkan Delhi pada 1399, Dinasti Sayyid tampil memimpin. Namun, para sayyid menguasai Delhi hanya selama 37 tahun. Turbulensi politik menyebabkan kekuasaan mereka tidak pernah stabil.

Penguasa terakhir Dinasti Sayyid, Alauddin, menyerahkan takhtanya kepada gubernur Punjab, Bahlul Khan Lodi, pada 1451. Alauddin lantas menyingkir ke Budau, daerah sekitar Sungai Gangga (kini Uttar Pradesh). Sejak saat itu, berdirilah Dinasti Lodi, yang masih mewarisi kebudayaan Persia (Pashtuns).

Berbeda dari rezim-rezim sebelumnya, Dinasti Lodi menggunakan Persia sebagai bahasa resmi. Bahlul Khan dapat mengalahkan Dinasti Syarqi yang menguasai wilayah yang kini Uttar Pradesh pada 1486. Dia lantas menempatkan putra tertuanya sebagai gubernur di sana untuk mengamankan pengaruh Delhi di India selatan.

Setelah kematiannya pada 1489, Dinasti Lodi dipimpin putra kedua Bahlul Khan,Sikandar. Ia berjasa besar dalam membangun Agra pada 1504, kota tersebut belakangan menjadi ibu kota Kesultanan Mughal. Salah satu keajaiban dunia, Taj Mahal, berlokasi di sana.

Pada 1517, Sikandar digantikan putra bungsunya, Ibrahim Lodi. Di medan tempur, dia merupakan komandan militer yang disegani tetapi cenderung gegabah dalam berpolitik. Oleh karena itu, banyak orang di lingkaran terdekatnya menaruh sinisme diam-diam. Inilah masa-masa senja Kesultanan Delhi.

Salah satu yang tidak menyukai Ibrahim Lodi adalah gubernur Punjab, Dawlat Khan. Dia kemudian bersekutu dengan seorang keturunan Timur Lenk, Babur, hingga pecah perang Panipat Pertama pada 1526.

Setelah melalui pelbagai konflik, Ibrahim Lodi kalah sekaligus menamatkan riwayat Kesultanan Delhi. Babur kemudian mendirikan Kesultanan Mughal yang menonjolkan ciri-ciri kebudayaan Indo-Persia, meski masih diwarnai pengaruh lokal India.

Kelak pada akhir abad ke-17, Kesultanan Mughal menjadi salah satu imperium terbesar dan terkaya yang pernah dikenal sejarah dunia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA