Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Asosiasi Tegaskan Fintech Bukan Pesaing Perbankan

Jumat 19 Jan 2018 14:33 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Budi Raharjo

Fintech (ilustrasi)

Fintech (ilustrasi)

Foto: flicker.com
Fintech bukan pesaing perbankan karena segmen yang disasar berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menegaskan, perusahaan financial technology (fintech) tidak bersaing dengan perbankan. Pasalnya, segmen yang disasar berbeda.

"Kita lihat dari data OJK (Otoritas Jasa Keuangan), kalau bicara fintech di bidang pembiayaan (Peer to Peer/P2P lending) ternyata market yang disasar berbeda dengan segmentasi perbankan. Hal itu karena target kita bisa UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) atau konsumen," jelas Direktur Kebijakan Publik Aftech Ajisatria Suleiman kepada wartawan di Jakarta, Kamis, (18/1).

Ia menjelaskan, untuk konsumen data OJK menyebutkan, fintech menyasar masyarakat yang tidak memiliki kartu kredit. Sedangkan untuk UMKM, fintech masuk ke pinjaman tanpa jaminan. "Kalau perbankan kan selalu minta jaminan. Jadi fintech tidak bersaing dengan perbankan sebab segmennya berbeda," tegas Aji.

Lebih lanjut, kata dia, sekarang fintech harus bekerja sama dengan bank. Dengan begitu bisa saling bersinergi.  "Nah contoh kerja sama ini yang mau coba didetailkan. Jadi bagaimana fintech bekerja sama dengan bank hal dalam hal membuka virtual account misalnya. Kita harap pola-pola kerja sama fintech dengan perbankan cukup banyak," tuturnya.

Ia berharapkan, berbagai pola kolaborasi tersebut bisa diakomodasi semua. Jadi tidak fokus hanya pada satu modal, karena bila diseragamkan polanya, menurut dia, kemungkinan sedikit mengganggu.

"Selama ini praktiknya cukup beragam, setiap bank memiliki prosedur berbeda. Kalau sampai OJK menyeragamkan, sementara bank lain nggak bisa seperti itu, berarti bisa berpotensi membahayakan," kata Aji.

Sebagai informasi, total pembiayaan yang disalurkan fintech P2P lending naik dari Rp 200 miliar pada akhir 2016 menjadi Rp 2,5 triliun pada akhir 2017. Kenaikan tersebut, kata Aji, mencapai 10 kali lipat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA