Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Setelah Dua Tahun, Petani Badui Akhirnya Panen Durian

Rabu 17 Jan 2018 04:14 WIB

Red: Didi Purwadi

Pengunjuk menghadiri Festival Durian Bogor 2017 di Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/12). Festival durian yang menyajikan belasan durian lokal seperti Monthong (Bali), Jambi, Bengkulu, Rancamaya (Bogor), Medan hingga Banyumas dan dijual dengan harga mulai Rp75 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram tersebut bertujuan mengenalkan sekaligus mengembangkan durian lokal kepada masyarakat.

Pengunjuk menghadiri Festival Durian Bogor 2017 di Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/12). Festival durian yang menyajikan belasan durian lokal seperti Monthong (Bali), Jambi, Bengkulu, Rancamaya (Bogor), Medan hingga Banyumas dan dijual dengan harga mulai Rp75 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram tersebut bertujuan mengenalkan sekaligus mengembangkan durian lokal kepada masyarakat.

Foto: Arif Firmansyah/Antara

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Sejumlah petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mulai panen durian setelah gagal memanden pada 2016 akibat curah hujan tinggi di daerah itu. "Kami merasa lega panen durian awal tahun 2018 cukup lumayan,'' kata Santa (45), seorang petani Badui saat dihubungi di Lebak, Selasa.

Santa mengaku bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp 30 juta dari hasil panen 40 pohon durian.  Tingkat pendapatan ekonomi masyarakat Badui diprediksi meningkat karena sebagian besar mereka memiliki kebun tanaman durian.

Selama ini, tanaman buah durian dijadikan sebagai investasi bagi petani Badui, selain dari hasil pertanian ladang huma, pisang dan umbi-umbian. Mereka mengembangkan tanaman durian di lahan tanah hak ulayat adat Badui di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar.

Selain itu, mereka juga menanam tanaman buah durian di luar kawasan tanah hak ulayat Badui. "Semua durian yang dipanen itu ditampung oleh tengkulak setempat," kata Santa.

Santa mengatakan, hingga saat ini petani Badui masih mempertahankan tanaman buah durian menjadikan andalan pendapatan tahunan. Masyarakat Badui hingga kini tidak melakukan penebangan pohon durian, meski harga kayu cukup lumayan. Penebangan kayu tentu dilarang adat karena bisa menimbulkan petaka bencana alam.

Populasi pohon durian cukup banyak hingga ribuan batang pohon sehingga bisa memenuhi permintaan pasar. Produk durian Badui jika panen melimpah dan dipasok ke luar daerah,termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat juga membanjiri Pasar Rangkasbitung. "Kami sangat senang panen durian itu sehingga bisa membiayai pernikahan anaknya," katanya,

Sarman (55), seorang petani Badui lainnya, mengatakan dirinya kini menjual 50 batang pohon durian yang sudah panen kepada tengkulak. Buah durian itu dijual Rp 1 juta per pohon, sehingga menghasilkan pendapatan ekonomi Rp 50 juta.

"Kami panen durian tahun ini cukup menguntungkan dibandingkan tahun sebelumnya tidak panen," katanya.

Berdasarkan pantauan, puluhan pedagang durian di Rangkasbitung kini memadati Jalan Gang Kibun, Multatuli, Hardiwingun, Sunankalijaga dan Pasar Rangkasbitung. Selain itu juga Jalan Aweh-Mandala, Pandeglang-Rangkasbitung-Warunggunung-Petir. Saat ini harga durian Badui berkisar Rp 20.000 sampai Rp 70.000 per buah.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA