Wednesday, 16 Jumadil Akhir 1443 / 19 January 2022

Wednesday, 16 Jumadil Akhir 1443 / 19 January 2022

Awal Pertumpahan Darah di Bosnia

Kamis 11 Jan 2018 15:00 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko

Muslim Bosnia memanjatkan doa sebelum penuguburan kembali sisa jenazah korban pembantaian Srebrenica pada tahun 1995 di Bosnia Herzegovina, Selasa (11/7).

Muslim Bosnia memanjatkan doa sebelum penuguburan kembali sisa jenazah korban pembantaian Srebrenica pada tahun 1995 di Bosnia Herzegovina, Selasa (11/7).

Foto: Jasmin Brutus/EPA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak kurang dari 1.400 unit masjid dihancurkan tentara Serbia dan Kroasia selagi Perang Bosnia berlangsung. Sejak berdiri pada 1945, Yugoslavia merupakan gabungan dari enam republik, yakni Slovenia, Kroasia, Bosnia- Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia.

Sejak meninggalnya tokoh pemersatu Yugoslavia, Josip Broz Tito, pada 4 Mei 1980, stabilitas politik sulit terjaga. Kekacauan ekonomi pun membayang. Pada awal 1980-an, sebanyak 20 persen penduduk federasi ini tanpa pekerjaan, sedangkan inflasi melonjak 45 persen. Skandal Agrokomerc pada 1987 menguak betapa korupnya basis finansial Yugoslavia.

Pergolakan dimulai dengan ulah presiden Serbia Slobodan Milosevic yang mencaplok wilayah otonom Vojdovina dan Kosovo pada Maret 1989. Pada tahun yang sama, tokoh nasionalis Kroasia, Franjo Tudman, mendirikan Partai Uni-Demokratik Kroasia (HDZ). Disintegrasi Yugoslavia secara resmi terjadi pada Selasa pagi, 23 Januari 1990, ketika Liga Komunis Yugoslavia bubar.

Tiap republik pun dapat mengklaim kedaulatan masing-masing. Bosnia-Herzegovina pada saat itu merupakan wilayah yang cukup bineka dibandingkan dengan republik-republik lain dalam federasi Yugoslavia. Masyarakatnya terdiri atas tiga etnis dominan, yakni Bosniak (Muslim), Serbia (Kristen Ortodoks), dan Kroasia (Katolik).

Demokrasi pun agaknya berjalan di negeri itu setelah bubarnya Liga Komunis Yugoslavia. Alija Izetbegovic dari Partai Aksi Demokratik (SDA) menjadi presiden Bosnia-Herzegovina pada November 1990. Schuman dalam bukunya, Nations in Transition: Bosnia and Herzegovina (2004), memandang Izetbegovic sebagai politikus Muslim yang berjuang mempertahankan keberagaman etnis untuk persatuan negerinya.

Dalam sebuah kesempatan, Milosevic dan Tudman mengadakan pertemuan rahasia. Keduanya memuluskan rencana untuk menyerang Bosnia-Herzegovina dan membagi-bagi wilayah tersebut. Pemimpin Serbia dan Kroasia itu menganggap Bosnia sebagai musuh bersama. Hal ini sejalan dengan seruan kalangan separatis Serbia dan Kroasia di Bosnia-Herzegovina yang menghendaki pemben tukan wilayah otonom sejak Desember 1991.

Pada 6 April 1992, komunitas Eropa mengakui kedaulatan Bosnia-Herzegovina. Namun, kabar gembira ini segera disusul insiden berdarah. Satu hari setelahnya, aksi damai di Sarajevo dibubarkan tentara etnis Serbia dengan rentetan peluru. Tentara Bosnia yang dibantu tentara etnis Kroasia berupaya menumpas tentara Serbia ini.

Namun, situasi akhirnya berbalik sehingga tentara Bosnia mesti bertempur melawan tentara Kroasia sekaligus tentara Serbia. Pada 2 Mei 1992, Jenderal Ratko Mladic memimpin tentara Serbia untuk mengepung ibu kota Bosnia-Herzegovina, Sarajevo. Empat tahun lamanya mereka memutus akses lalu lintas, listrik, dan air bersih di kota ini.

Dampaknya, penduduk Bosnia terkepung dalam bayang-bayang kelaparan dan ketakutan. Pasukan Mladic terus memborbardir Sarajevo sehingga menewaskan ribuan orang Bosnia. Sementara itu, Mate Boban tampil membentuk faksi militer Kroasia (HVO) di Bosnia-Herzegovina. Dia didukung sepenuhnya Tudjman yang sedari awal ingin menguasai wilayah negara ini.

Pertempuran brutal berlangsung, khususnya untuk merebut pusat Herzegovina, Kota Mostar. Stari Most, jembatan bersejarah yang dibangun sejak abad ke- 16, ikut dihancurkan tentara Kroasia dalam kejadian ini. Selain itu, tentara Kroasia juga menghancurkan setiap masjid yang dijumpai.

Daniel F Cetenich dalam tesisnya untuk San Francisco State University (2002) menyebutkan, tidak kurang dari 1.400 unit masjid dihancurkan tentara Serbia dan Kroasia selagi Perang Bosnia berlangsung. Pada 5 Februari 1994, tentara Serbia membantai 68 warga sipil Sarajevo serta mencederai 200 orang lainnya. Mereka juga menggiring para tawanan ke sejumlah barak konsentrasi.

Tindakan keji mereka sempat direkam media internasional sehingga tersebar luas ke penjuru dunia. Bagaimanapun kerasnya kecaman yang datang, kenekatan Mladic tidak juga surut. Pada Maret 1994, Amerika Serikat (AS) memediasi upaya perdamaian antara faksi-faksi di Bosnia-Herzegovina. Kubu Kroasia dan Bosnia sempat menurut, tetapi kubu Serbia bersikeras menolak.

Memasuki tahun 1995, negosiasi yang sesungguhnya baru dapat terjadi. Bagaimanapun, di lapangan militer Serbia tetap berulah. Pada 8 April 1995, mereka menembaki pesawat pengangkut bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi Bosnia. Pada 26 Mei 1995, tentara Serbia juga kembali mengebom Sarajevo.

NATO membalas tindakan ini dengan memborbardir basis pertahanan Serbia. Lebih nekad lagi, tentara Serbia lantas menculik lebih dari 350 personel pasukan keamanan PBB yang beroperasi di Bosnia- Herzegovina. Empat bulan lamanya ketegangan terus terjadi, sementara proses negosiasi berlangsung alot.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA