Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Garda Revolusi Iran: Demonstrasi Sudah Berakhir

Jumat 05 Jan 2018 05:13 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha, Fira Nursya’bani/ Red: Elba Damhuri

Demonstrasi di Teheran, Iran, 30 Desember 2017.

Demonstrasi di Teheran, Iran, 30 Desember 2017.

Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran telah mengumumkan berakhirnya aksi demonstrasi di negara mereka. Menurut Pimpinan Garda Revolusioner Iran Jenderal Mohammad Ali Jafar, pihaknya telah membereskan para provokator unjuk rasa.

"Hari ini kita bisa mengumumkan akhir dari penghasutan tersebut. Sejumlah besar pembuat masalah, yang mendapat pelatihan dari kontra-revolusioner telah ditangkap dan segera mendapat tindakan tegas," kata Ali Jafar seperti dilansir media semiresmi Iran, Fars News Agency, Kamis (4/1).

Baca Juga: Grafis Gejolak di Iran

Ia mengatakan, “Hasutan 1396”, nama yang ia gunakan menyebut unjuk rasa beberapa hari belakangan merujuk kalender Iran, telah selesai. Garda Revolusi Iran telah mengerahkan pasukan ke tiga provinsi untuk memadamkan kerusuhan, menyusul unjuk rasa antipemerintah tersebut.

Garda Revolusi juga berupaya mengecilkan aksi unjuk rasa sepekan terakhir. Mereka melansir, hanya sebanyak 15 ribu warga Iran mengikuti aksi yang digelar di berbagai daerah di Iran sejak 28 Desember 2017 tersebut. “Dengan bantuan Tuhan, kekalahan mereka sudah dipastikan,” kata Ali Jafar.

Aksi unjuk dimulai warga kota terbesar kedua Iran, Masshad. Mereka memprotes kenaikan harga-harga bahan pokok dan tingginya tingkat pengangguran, serta korupsi di pemerintahan. Unjuk rasa itu kemudian meluas ke berbagai kota lain. Slogan "Makanan, Kebebasan, dan Pekerjaan" kerap diteriakkan para pengunjuk rasa.

Mereka juga menyatakan keberatan dengan aksi-aksi Iran di regional di tengah kondisi ekonomi dalam negeri. Iran dituding ikut memasok senjata dan mendanai pemberontakan di Yaman, serta mendukung penguasa di Suriah.

Kemarahan warga ujung-ujungnya mengarah pada tuntutan penggulingan kekuasaan di Iran. Al-Arabiya, jaringan media yang dimiliki Arab Saudi, negara pesaing regional Iran, melansir sembilan tuntutan para pengunjuk rasa.

Di antaranya, menuntut referendum untuk mendirikan rezim masa depan. Mereka juga meminta diruntuhkannya sistem wilayatul faqih, alias kepemimpinan tertinggi negara di tangan Dewan Pakar yang terdiri atas para ulama Syiah.

Para pengunjuk rasa juga menuntut dihapuskannya kewajiban mengenakan chador, kain penutup kepala khas Iran, dan mendukung penampilan bebas bagi wanita. Selain itu, mereka menuntut kebebasan media dan akses internet, pemisahan agama dari politik, pengadilan yang independen, pemerataan pendapatan, pemilu yang bebas dan adil, serta kesetaraan gender.

Korban tewas dalam aksi unjuk rasa di berbagai kota di Iran telah mencapai 23 orang. Sejumlah media di Iran sebelumnya mengungkapkan, pemerintah telah menangkap sedikitnya 530 orang sepanjang aksi demonstrasi berlangsung. Sebanyak 450 orang ditangkap di Ibu Kota Tehran dan 80 sisanya digelandang dari Kota Arak.

Berakhirnya situasi kritis di Iran juga didukung dengan aksi massa propemerintah yang turun ke jalan. Mereka berasal dari sekitar 10 kota, termasuk Teheran. Massa mengecam kekacauan yang terjadi di Iran selama sepekan terakhir.

Mereka menyatakan dukungan terhadap pemerintahan saat ini dan meneriakkan slogan, yang menentang Amerika Serikat (AS) Israel dan Arab Saudi.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding, pihak eksternal yang menyebabkan terjadinya pergolakan di negaranya. Dia mengatakan, musuh Iran telah bersekutu dan menggunakan berbagai cara yang mereka miliki, termasuk uang, senjata, politik, dan dinas intelijen, untuk menimbulkan keresahan.

Komentar otoritas puncak Iran itu terjadi beberapa jam sebelum Amerika Serikat (AS) mengatakan, mereka akan mengupayakan perundingan darurat di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengenai demonstrasi di Republik Islam tersebut.

Kendati AS menyangkal keterlibatan dalam aksi unjuk rasa, komentar-komentar Presiden AS Donald Trump melalui akun Twitter menunjukkan dukungan kuat terhadap para pengunjuk rasa.

“Penuh hormat untuk warga Iran yang berjuang mengambil alih pemerintahan korup mereka. Kalian akan melihat dukungan hebat dari Amerika Serikat pada waktu yang tepat,” tulis Trump Rabu (3/1) pagi waktu setempat atau Kamis (4/1) WIB.

Cuitan itu kemudian dihapus Trump dan diralatnya. Kata “berjuang” atau “fight” dalam bahasa Inggris, ia ganti dengan “mencoba” alias “try”.

Duta Besar (Dubes) Iran untuk PBB, Gholamali Khoshroo, mengatakan, cicitan Trump tentang Iran tersebut sangat mengganggu. Trump dinilai telah melewati batas-batas internasional dengan menyatakan dukungan untuk demonstran anti-Pemerintah Iran.

Dalam sebuah surat kepada pejabat PBB, Khoshroo menuduh Washington melakukan intervensi dengan cara yang mengerikan terhadap urusan dalam negeri Iran. Menurut dia, Trump dan Wakil Presiden AS Mike Pence secara pribadi telah memperparah situasi.

"Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat, dalam cicitan konyol mereka yang luar biasa, telah menghasut orang-orang Iran untuk melakukan tindakan yang mengganggu," tulis Khoshroo kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dikutip Fox News.

Surat Khoshroo menyatakan, Washington telah melanggar prinsip hukum internasional yang mengatur perilaku beradab hubungan internasional. (Pengolah: fitriyan).

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA