Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Republika Kini dan Esok

Kamis 04 Jan 2018 05:27 WIB

Red: Elba Damhuri

Peserta Aksi. Peserta aksi membentangkan koran Harian Republika  dalam  aksi damai di depan kantor Kedutaan Amerika Sertikat, Jakarta, Jumat (08/12).

Peserta Aksi. Peserta aksi membentangkan koran Harian Republika dalam aksi damai di depan kantor Kedutaan Amerika Sertikat, Jakarta, Jumat (08/12).

Foto: Republika/Iman Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Roni Tabroni, Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ikon informasi umat Islam Indonesia”. Jika tidak berlebihan, Republika begitulah adanya. Media cetak yang menyuarakan kepentingan Islam di Indonesia yang terbit dalam bentuk harian sejak 25 tahun lalu.

Hingga kini, suaranya terus 'nyaring' membela kepentingan kaum tertindas, baik ekonomi, sosial, maupun politik. “Republika adalah aset tidak ternilai”. Ini pun penulis kira bukan dibuat-buat.

Di tengah perang informasi yang sangat ketat, Islam hanya punya Republika yang mampu mengimbangi media-media besar nasional secara berimbang dan percaya diri.

Nyaris, media-media Islam lainnya tidak mampu membangun sebuah argumen populer yang dapat dibaca lintas generasi dan aliran. Sebab, kebanyakan media Islam hanya bersifat internal, seperti komunitas pengajian, masjid, maupun ormas.

Republika juga harapan. Setelah terbukti sepanjang usianya menyuarakan Islam rahmatan lil alamin, kini dan ke depan Republika tidak berubah atau bahkan jauh lebih baik dalam mengisi ruang peradaban dengan tradisi informasi yang produktif dan positif.

Sempat dituduh condong kepada aliran Islam tertentu, tetapi seiring waktu, semuanya terbantahkan. Nyatanya, Republika berdiri di atas semua golongan, kecuali kemanusiaan yang universal itu.

Republika juga unik. Mengapa tidak, sebagai koran harian yang diinisiasi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di bawah pimpinan BJ Habibie pada saat itu, kemudian menjadi media yang dapat dibaca semua kalangan.

Biasanya, media Islam yang dibuat ormas Islam hanya berlaku dan dibaca oleh internal ormas tersebut, tetapi tidak dengan Republika. Ini juga menunjukkan, betapa ICMI mampu menginspirasi kita sebab melahirkan media yang kemudian lebih besar dari ormasnya sendiri.

Ada yang menarik dalam catatan sejarah Republika. Presiden Soeharto mengizinkan lahirnya media massa Islam, bahkan turut menyempurnakan nama Republik dengan menambahkan huruf “a”-nya sehingga namanya menjadi Republika sampai saat ini.

Kedua, koran harian ini, sejak awal tidak dimonopoli orang tertentu, maka sahamnya dibagi kepada umat Islam di Indonesia, dengan harga Rp 5.000 per orang. Maka Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto pun pada saat itu memiliki saham yang sama dengan umat Islam lainnya.

Karena umat Islam merasa memiliki koran ini, maka ketika terbitan pertama, Republika disambut antusias. Kehebatan Republika terletak pada pengolahan pesan. Tidak mudah menyuarakan Islam dengan corak populer dan dibaca oleh semua golongan.

Bahkan, konon non-Muslim pun membaca, termasuk para pengambil kebijakan dan kedutaan besar negara-negara lain di Indonesia. Sehingga, Republika mampu menampilkan diri sebagai cermin Islam Indonesia yang identik dengan sifat toleran, rasional, rahmatan lil alamin, walaupun sekali-sekali mengkritik dengan cara beradab.

Mengolah pesan bukanlah hal mudah. Namun, Republika mencoba membawa nuansa opini tentang pandangan Islam terhadap objek tertentu dengan pendekatan jurnalisme yang profesional.

Maka itu, suara keberpihakan Republika di-framing dengan proses liputan jurnalistik yang baik dan gaya bahasa yang santun. Fakta ini mematahkan tuduhan bahwa media massa Islam cenderung mistis, tidak rasional, mudah menuduh, dan emosional.

Sesungguhnya, sebagai media Islam, ada resistensi jika tidak dikelola baik. Pertama, dari sisi konten, muatan Islam jika terjebak pada pemahaman fikhiyah akan menjadi perdebatan di internal umat Islam sendiri.
Kedua, dari sisi Islam, ada stigma yang dibangun oleh kelompok tertentu untuk menghindari hal berbau Islam. Ketiga, dari sisi jurnalisme, penulis meraba-raba pola jurnalisme Islam yang baik seperti apa?

Pada umumnya, media Islam cenderung mengeksploitasi opini pribadi, subjektivitas berlebihan, dan harus selalu mengedepankan Islam dalam bentuk teks. Keempat, dari sisi pasar, media Islam biasanya tidak banyak diserap.
Namun kini, kita menyaksikan sebuah sajian media yang cukup menggembirakan khususnya bagi umat Islam, sebab dapat bersaing dengan 'raja-raja' media lainnya di Tanah air dengan kekuatan modal yang amat fantastis.

Republika sudah mampu merebut pasar nasional dengan manajemen profesional dan modern. Ke depan, ada kecemasan global terkait dengan keberadaan media cetak--yang koran Republika ada di dalamnya. Ada yang menganggap ancaman itu sebagai mitos, tetapi secara kasat mata kita menyaksikan beberapa media cetak telah benar-benar mati dan sebagiannya lagi masih mencoba untuk hidup walaupun terlihat berat.

Para pakar dan pelaku media berdiskusi untuk mencari formula agar 'kiamat' media cetak itu tidak benar-benar terjadi seperti yang diramalkan Philipp Meyer. Sebab, ternyata modal yang besar pun kini tidak menjadi jaminan eksistensi media cetak. Kehawatiran global ini bisa jadi menyasar seluruh media cetak, termasuk Republika.

Di antara sekian banyak kekhawatiran, sesungguhnya kita akan menemukan harapan di mana Republika menjadi bagian dari ikon peradaban yang akan tetap ada, sepanjang kehadirannya dapat menyesuaikan dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Setidaknya, penulis melihat ada potensi (modal) besar yang dimiliki Republika yang belum tentu dimiliki media cetak lainnya. Pertama, komunitas pembaca. Kini media semakin spesifik, mengayomi para pembacanya yang berada di komunitas tertentu.

Untungnya, sejak awal Republika sudah mendeklarasikan sebagai koran komunitas Islam. Pilihan ini strategis, di negara mayoritas Islam ini menjadi penting menyapa seluruh umat.

Walaupun Islam banyak warna dan keragaman pemahaman, Republika mampu melampaui sekat-sekat perbedaan paham hingga akhirnya Republika jadi milik semua. Terlebih ketika sejak awal Republika bermain di pembaca berlangganan.

Ini jauh lebih baik karena mereka tidak mudah berhenti sebab selain memiliki ikatan kontrak bayaran, pelanggan adalah orang yang memiliki kesetiaan terhadap media.

Kedua, keberpihakan kepada peradaban dan kemanusiaan. Republika bukan hanya kertas bertuliskan informasi-informasi biasa, melainkan di dalamnya terdapat sejumlah ilmu yang penting bagi publik.

Membaca Republika tidak hanya mengetahui kejadian remeh-temeh, tetapi membaca peradaban manusia lintas zaman. Keberpihakan inilah yang tecermin dari konten yang tidak biasa.

Ketiga, militansi sumber daya manusia (SDM). Di media-media Islam, modal terpenting adalah ikatan kuat antara SDM dan kepentingan dakwahnya. Hal inilah yang tidak bisa dibeli oleh rupiah dan tidak bisa ditukar oleh jabatan.

Banyak kasus, media-media Islam tidak besar, tetapi orang-orangnya begitu gigih berjuang dengan dakwah bil qalam melalui media yang digelutinya.

Walaupun bukan tanpa adanya kekurangan, pada usianya yang ke-25, Republika sudah memberikan kegembiraan dan kebanggaan kepada umat Islam Tanah Air.

Kini, banyak orang bangga menenteng Republika--karena bukan sekadar koran--bukan hanya karena kovernya yang suka mengejutkan, melainkan juga kontennya yang membanggakan. Mungkin peristiwa ini akan terus terjadi selama kehidupan ini ada. Al’ilmu minallah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA