Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

BNPB: Ada 2.341 Bencana Sepanjang 2017

Sabtu 30 Dec 2017 00:50 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Teguh Firmansyah

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Foto: Republika/ Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 2.341 bencana sepanjang tahun 2017. Dari 2.341 kejadian tersebut, telah merenggut sebanyak 377 nyawa manusia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan kejadian bencana tersebut terdiri dari 787 banjir, 716 puting beliung, 614 tanah longsor, dan 96 kebakaran hutan dan lahan. Selanjutnya 76 banjir dan tanah longsor, 19 kekeringan, 20 gempabumi, 11 gelombang pasang dan abrasi, serta dua kali letusan gunung api.

"Bencana-bencana tersebut 99 persen adalah bencana hidrometeorologi, bencana yang dipengaruhi oleh cuaca dan aliran permukaan," ujar Sutopo dalam keterangan tertulis, Jumat (29/12).

BNPB mencatat 377 orang meninggal dan hilang, 1.005 orang luka-luka dan 3.494.319 orang mengungsi dan menderita. Sedangkan kerusakan fisik akibat bencana meliputi 47.442 unit rumah rusak, 365.194 unit rumah terendam banjir, dan 2.083 unit bangunan fasilitas umum rusak.

Sejak  2014 hingga 2017, Sutopo mengungkapkan bencana longsor adalah bencana yang paling mematikan dan banyak menimbulkan korban jiwa.Bahkan seringkali longsor kecil pun bisa menyebabkan satu keluarga meninggal dunia.

Hal ini disebabkan lantaran jutaan masyarakat tinggal di daerah-daerah yang rawan longsor. Ditambah dengan kemampuan mitigasi yang belum memadai. Penataan ruang, menurutnya, benar-benar sudah harus ditegakkan guna mencegah daerah-daerah rawan longsor tersebut kembali menjadi pemukiman.

Sutopo menjelaskan, bencana banjir telah menyebabkan 135 orang meninggal dunia, 91 orang luka-luka, dan lebih dari 2,3 juta jiwa menderita dan mengungsi, serta ribuan rumah rusak.

Adapun Puting beliung atau angin kencang juga terus mengalami peningkatan di 2017. Dari 716 kejadian putting beliung sebanyak 30 orang meninggal dunia, 199 orang mengalami luka-luka, 14.901 jiwa mengungsi dan menderita, serta sekitar 15 ribu rumah rusak.

Kemudian pengaruh siklon tropis Cempaka pada 27-29 November 2017 lalu menyebabkan bencana di 28 kabupaten di Jawa. Banjir, longsor dan puting beliung menyebabkan 41 orang tewas, 13 orang luka-luka dan 4.888 rumah rusak.

Daerah yang paling terdampak adalah di Pacitan, Wonogiri, Kulon Progo dan Gunung Kidul karena berdekatan dengan posisi Siklon Tropis Cempaka, kata dia. Data BMKG sendiri selama tahun 2017 hingga 20/12/2017, telah terjadi 6.893 kali gempa. Gempa dengan kekuatan lebih dari 5 SR sebanyak 208 kali, gempa dirasakan 573 kali, dan gempa merusak sebanyak 19 kali.

Artinya hampir setiap hari terjadi gempa dengan rata-rata 19 kali. Dampak gempa yang merusak adalah gempa 6,9 SR di Barat Daya Tasikmalaya yang menyebabkan lebih dari 5.200 rumah rusak.

Sedangkan dari 127 gunungapi di Indonesia, hanya ada 2 gunungapi yang status Awas yaitu Gunung Sinabung sejak Juni 2015 hingga saat ini. Kemudian Gunung Agung sejak November 2017 hingga saat ini.

Dari sebaran bencana, daerah paling banyak terjadi bencana adalah di Jawa Tengah (600 kejadian), Jawa Timur (419), Jawa Barat (316), Aceh (89), dan Kalimantan Selatan (57). Sedangkan untuk kabupaten/kota, daerah yang paling banyak terjadi bencana adalah Kabupaten Bogor (79), Cilacap (72), Ponorogo (50), Temanggung (46), dan Banyumas (45).



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA