Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Obama: Pemimpin Harus Menyatukan Masyarakat

Kamis 28 Dec 2017 11:16 WIB

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah

Barrack Obama

Barrack Obama

Foto: Charles Dharapak/AP

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Mantan presiden AS Barack Obama mengatakan, politisi maupun pejabat pemerintah harus berhenti merusak tatanan wacana di sipil dan berusaha menyatukan masyarakat. Hal ini disampaikan Obama saat ia diwawancarai oleh Pangeran Harry dalam program Today BBC Radio.

Seperti dilansir The Guardian, Kamis (29/12), Obama tidak menyebutkan nama Donald Trump secara langsung. Namun dia mengatakan bahwa media sosial dapat menyebabkan fakta-fakta hilang dan memperkuat prasangka. Hal ini membuat percakapan publik menjadi lebih sulit.

"Semua dari kita dalam kepemimpinan harus menemukan cara untuk menciptakan ruang bersama di internet," katanya.

Ia mengatkan salah satu bahaya internet adalah orang bisa memiliki realitas yang sama sekali berbeda. Mereka bisa saja terlindungi dalam informasi yang memperkuat bias mereka saat ini.

Salah satu cara terbaik untuk melawan kecenderungan ini adalah memastikan bahwa komunitas online tidak hanya bergerak secara dalam jaringan, tetapi juga harus bergerak secara offline.

Menurutnya media sosial memiliki kekuatan untuk berkumpul dan terhubung. Namun orang tetap harus bertemu baik di tempat ibadah, atau lingkungan sekitar agar saling mengenal. "Sebenarnya, di internet semuanya sudah disederhanakan, tapi bila Anda bertemu orang-orang secara langsung ternyata sangat rumit," kata mantan presiden tersebut.

Obama mengaku merasa tenang saat melepaskan jabatannya. Ia mengatakan setiap presiden merupakan bagian dari sebuah perlombaan estafet. Ia mengaku telah berhasil melewati tongkat tersebut. "Kami telah menjalankan balapan yang bagus," katanya.

Menurutnya, sejak meninggalkan kantor kepresiden kehidupan tampak bergerak lamban. Namun hal ini bisa teratasi dengan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Mengomentari program kesehatannya yang dikritisi Trump, dia mengatakan reformasi kesehatan yang ia jalankan memberikan asuransi kepada 20 juta orang. Ini merupakan warisan terbesarnya, sejak meninggalkan jabatan kepresidenan. Ia mengaku telah menggunakan media sosial untuk mendorong orang Amerika menerima tawaran asuransi tersebut.

Pangeran Harry dan Obama menghabiskan sebagian dari wawancara untuk mendiskusikan obsesi bersama mereka dalam memberdayakan generasi muda di seluruh dunia. Hal ini menjadi fokus utama Yayasan Obama, sebuah LSM yang ia bentuk setelah berhenti menjadi presiden.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA