Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Menikmati Libur Akhir Tahun di Semarang

Jumat 22 Dec 2017 16:42 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Sejumlah wisatawan berkunjung di Obyek Wisata Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/3).

Sejumlah wisatawan berkunjung di Obyek Wisata Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/3).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID,  SEMARANG -- Sebentar lagi masa libur akhir tahun tiba sehingga tidak ada salahnya bila mulai saat ini merencanakan tujuan pelesiran bersama keluarga. Bali, Bandung, dan Yogyakarta biasanya menjadi tujuan utama bagi banyak wisatawan lokal untuk menghabiskan masa libur akhir tahun hingga awal tahun.

Namun, tidak ada salahnya pada libur akhir 2017 ini menggeser tujuan liburan ke Kota Semarang, yang sejak dua tahun lalu menampakkan wajah kota yang menawan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi, Ibu Kota Jawa Tengah ini banyak berubah.

Taman-taman kota dibangun di sejumlah titik, baik di pusat maupun di pinggiran. Objek wisata pun dipoles. Bantaran Sungai Banjir Kanal Barat yang semula 'berwajah' keras, disulap menjadi taman sekaligus lintasan jalan kaki (jogging track) yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Trotoar dipercantik dengan ornamen warna warni disertai dengan kursi taman untuk pejalan kaki yang ingin rehat sembari menikmati suasana kota. Jalur pedestrian ini bukan saja memberi keamanan dan kenyamanan pejalan kaki, melainkan juga memanjakan mata.

Pasar Kembang Kalisari yang dulu kurang tertata, direnovasi dengan desain bangunan baru yang lebih segar. Trotoarnya pun lebar dan memiliki taman buatan yang "Instagramable". Bonus lain bagi pejalan kaki, aroma harum bunga segar juga meresap ke hidung pejalan kaki di trotoar.

Latar belakang berupa perumahan kampung yang dulu terlihat kurang sedap dipandang, kini jauh lebih ramah mata. Gapura, bangunan, hingga atap rumah dicat warna-warni sehingga kawasan tersebut kini mendapat julukan Kampung Pelangi.

Kota Lama yang sejak zaman "old" menjadi ikon Kota Semarang terus dibenahi. Banyak bangunan lama direvitalisasi menjadi resto, kafe, dan tak lama lagi beroperasi Old City 3D Trick Art Museum. Hanya sepelamparan batu, masih berdiri kokoh Gereja Blenduk yang sering dijadikan latar belakang berfoto.

Masih di pusat kota, Lawang Sewu yang dulu identik dengan lokasi wisata "dunia lain", kini tampil apik dengan mempertahankan ornamen-ornamen lawas. Tidak jauh dari Lawang Sewu, berdiri megah Klenteng Sam Poo Kong. Ini merupakan situs petilasan pendaratan Laksamana Cina, Zheng He, yang lebih dikenal dengan nama Cheng Ho. Kendati menyandang nama klenteng, di dalam kompleks bangunan ini menyediakan musala.

Bila merasa gerah dengan hawa di tengah kota dan menginginkan hawa lebih adem dan bersuasana perdesaan, dari Sam Poo Kong bisa sedikit mendaki ke Gunungpati. Hanya dengan 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor, wisatawan bisa menikmati hawa sejuk.

Desember merupakan waktu yang pas untuk menikmati durian Gunungpati. Begitu mudah menemukan penjaja durian di kawasan itu dengan harga yang terjangkau. Karena berada di sentra tanaman durian, tentu saja harganya lebih murah ketimbang di perkotaan.

Masih banyak tujuan wisata yang dikunjungi di Kota Semarang, misalnya, Masjid Agung Jawa Tengah, Vihara Avalokitesvara, Goa Kreo, hingga Pantai Marina. Mal, toserba, hingga tempat hiburan juga bertebaran di kota ini.

Kebangkitan Pariwisata
Selama puluhan tahun kota ini memang lebih banyak menggarap sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa. Namun, belakangan ini sektor pariwisata mendapatkan perhatian lebih dari Pemkot Semarang.

"Fokus Kota Semarang saat ini mulai bergeser dari industri manufaktur ke industri pariwisata," kata Wali Kota Hendrar Prihadi yang biasa disapa Hendi.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menyebutkan bahwa jumlah wisatawan ke kota ini sepanjang 2017 lebih dari empat juta orang. Padahal, menurut Kepala Disbudpar Kota Semarang, Masdiana, targetnya sekitar empat juta turis domestik dan mancanegara.

Melubernya wisatawan tersebut berkaitan dengan kian bagusnya sarana dan prasarana ke titik-titik tujuan wisata. Selain jalan yang mulus, baik konstruksi beton maupun aspal, moda transportasinya juga cukup lengkap, mulai dari angkutan kota hingga bus-bus ber-AC dengan tarif murah.

Merebaknya bisnis angkutan berbasis aplikasi (online) kian memudahkan turis untuk bergerak dari tujuan wisata yang satu ke tempat lain.

Soal penginapan, jumlah hotel di Kota Semarang terus bertambah. Data di Badan Pusat Statistik Kota Semarang menyebutkan jumlah tempat tidur hotel bintang satu hingga lima pada 2014 tercatat 6.356 kamar. Setahun kemudian bertambah menjadi 6.739 tempat tidur.

Jumlah tempat tidur pada 2017 diperkirakan bertambah banyak mengingat selama dua tahun terakhir ini jumlah hotel yang beroperasi juga kian banyak. Bila wisatawan ingin menikmati suasana malam dan pagi di Simpang Lima, di kawasan ini ada belasan hotel yang siap menampung para turis.

Soal kuliner, Kota Semarang sejak lama dikenal sebagai gudang makanan enak dengan harga ramah dompet. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 900 kafe dan restoran di kota ini, sebagian beroperasi 24 jam.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA