Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Tillerson: Korut Harus Kembali Negosiasi

Sabtu 16 Dec 2017 11:14 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Budi Raharjo

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson

Foto: REUTERS/Yuri Gripas

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Sekretaris Negara AS Rex Tillerson mengatakan, Korea Utara harus kembali ke meja perundingan untuk melakukan negosiasi dengan AS. Tillerson mengatakan, Pyongyang harus menghentikan pengujian terus-menerus terhadap senjata nuklirnya, sebelum melakukan pembicaraan.

Pernyataan Tillerson tersebut merupakan pernyataan balik dari komentar yang ia katakan sebelumnya awal pekan ini. Dimana Tillerson mengatakan, AS siap untuk berbicara kapanpun, Korea Utara ingin berbicara. Namun, pernyataan tersebut segera dibantah oleh Gedung Putih.

Korea Utara telah berulang kali melakukan uji coba rudal nuklir dan balistiknya tahun ini, yang bertentangan dengan kecaman global dan sanksi internasional yang semakin berat.

Awal minggu ini, Tillerson mengatakan, "Mari kita bertemu dan mari kita bicara tentang cuaca jika anda mau dan berbicara tentang, apakah itu di meja persegi atau meja bundar, jika itu yang Anda sukai. Kalau begitu kita bisa mulai menyusun peta, peta jalan, dari apa yang mungkin ingin kita jalani," kata Tillerson seperti yang dilansir di //BBC News, Sabtu (16/12).

Namun, ucapan Tillerson tersebut segera ditanggapi oleh Cina, Rusia, dan juga sanggahan dari Gedung Putih. Dimana Gedung Putih mengeluarkan sebuah pernyataan, Korea Utara harus mengakui untuk meninggalkan senjata nuklirnya sebelum perundingan dilanjutkan.

Hanya selang beberapa jam, sekretaris pers Sarah Saunders mengeluarkan sebuah pernyataan kepada wartawan, dengan mengatakan bahwa pandangan Presiden AS Donald Trump belum berubah. "Korea Utara bertindak dengan cara yang tidak aman, tidak hanya terhadap Jepang, Cina, dan Korea Selatan, tapi juga seluruh dunia," kata Sarah.

Pada Jumat(15/12), Tillerson juga mendesak Rusia dan China untuk memberi tekanan lebih besar pada Pyongyang, dengan melakukan tindakan di luar sekadar kepatuhan terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun, kedua negara tersebut menolak.

Ia mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB, opsi diplomatik tetap terbuka, namun AS tidak akan tunduk pada kondisi Korea Utara untuk negosiasi. "Kami tidak menerima tindakan santai dari rezim sanksi sebagai prasyarat perundingan," katanya.

"Kami tidak menerima dimulainya kembali bantuan kemanusiaan sebagai prasyarat pembicaraan, jadi kami tidak akan menerima prasyarat untuk perundingan ini," tambah Tillerson.

Sedangkan di Dewan Keamanan PBB, Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono mengatakan, Korea Utara belum siap untuk berbicara dan tidak siap untuk menghentikan pengembangan senjatanya.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan, sudah saatnya untuk menyalakan kembali dan memperkuat jalur komunikasi dengan Pyongyang, guna mengejar diplomasi dan menghindari konflik, yang risikonya semakin meningkat akibat retorika yang berbahaya.

Duta Besar Korea Utara Ja Song Nam juga mengatakan, sesi Dewan Keamanan PBB yang berfokus pada program nuklir Korea Utara, merupakan sebuah tindakan putus asa yang disusun oleh AS. Karena menurutnya, AS takut dengan kekuatan luar biasa Korut yang telah berhasil mencapai tujuan besar dalam sejarahnya, untuk menyelesaikan kekuatan nuklir negara tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA