Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Taman Islam Jadi Pusat Koleksi dan Riset

Rabu 29 Nov 2017 23:00 WIB

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko

Masjid Cordoba di Spanyol.

Masjid Cordoba di Spanyol.

Foto: EPA/KHALED ELFIQI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada masa kejayaan Islam, taman juga jadi tempat menyimpan aneka koleksi tumbuhan langka dan eksotik. Misalnya, amir Dinasti Umayyah pertama di Spanyol, Abdul Rahman yang sangat menyukai bunga sehingga ia memenuhi taman kerajaan dengan beragam tumbuhan langka dari berbagai belahan bumi.

Ia bahkan, mengirimkan utusan ke Suriah dan beberapa daerah di timur untuk mengumpulkan tetumbuhan dan biji-bijian. Tanaman buah delima misalnya, baru dikenalkan di Spanyol ketika Abdul Rahman berkuasa. Pun kurma yang diperkenalkan ke Spanyol pada zaman Abdul Rahman.

Pada abad 10, taman-taman Kerajaan Cordoba menjadi semacam kebun raya yang jadi tempat eksperimen persemaian aneka biji, stek, dan tunas dari berbagai penjuru dunia. Taman-taman lain juga jadi situs aktivitas sains tanpa kehilangan fungsinya menyenangkan mata.

Sebuah manuskrip geografi karya al-Udhri menyebut, seorang raja yang memimpin kerajaan kecil di Spanyol (Taifa) membawa aneka tumbuhan langka ke tamannya di Almeira, termasuk di dalamnya tumbuhan pisang dan tebu.

Di pengujung era dinasti Islam di Tabriz, Azerbaijan, taman milik Il-Khans bahkan, digunakan sebagai tempat aklimatisasi berbagi tumbuhan buah dari India, Cina, Malaysia, dan Asia Tengah. Di banyak tempat pada era kepemimpinan Islam, ketertarikan para raja akan riset botani dan inovasi pertanian mendorong revolusi agrikultur di beberapa negara.

Sebut saja salah seorang sultan Dinasti Mamluk di Suriah, Qawalun yang memperkenalkan tanaman dari Kairo. Pada abad 13, Raja Kanem bereksperimen dengan menumbuhkan tebu di taman kerajaan.

Sementara pada abad 14, sultan-sultan di Yaman membuat tulisan tentang agrikultur dan mengimpor sejumlah tumbuhan eksotik, salah satunya padi, untuk kemudian ditanam di lembah Zabid.

Tanda keseriusan lain para raja soal tetumbuhan adalah mereka tak segan mempekerjakan ilmuwan untuk menata dan mengelola taman-taman kerajaan. Taman Il-Khans di Tabriz misalnya, diawasi oleh seorang ahli botani Persia yang menulis buku tentang tanaman buah.

Penulis panduan bertani dan bertaman al-Tignari juga membuat buku seputar taman bagi raja-raja Taifa di Spanyol, juga untuk pangeran dari Dinasti Almoravid, Tamim. Di taman Sultan Sevilla, seorang penulis bidang botani mencatatkan domestikasi tumbuh-tumbuhan langka dari Iberia dan mengaklimatisasikannya di sana.

Pada abad 12, seorang ahli botani dan kedokteran al-Shafran mengoleksi tumbuhan dari luar Spanyol kemudian menanamnya di taman raja-raja Almohad di Guadix.

Sedangkan, Taman Huerta del Rey di Toledo ditangani oleh dua ahli pertanian, Ibnu Bassal dan Ibnu Wafid. Keduanya melakukan eksperimen pertanian dan menuliskannya dalam buku panduan bertani.

Ibnu Wafid juga menulis buku lain yang berisi nama-nama tumbuhan yang baru diperkenalkan ke Spanyol. Setelah Toledo runtuh pada 1085, Ibnu Bassal dan Ibnu Wafid pindah ke selatan Spanyol dan meneruskan riset mereka di sana. Ibnu Bassal juga membuat kebun raya lainnya di Sevilla.

Taman-taman di abad pertengahan itu yang beberapa di antaranya merupakan taman kerajaan juga jadi ruang bisnis yang menyenangkan sekaligus ruang riset sains yang artistik. Terhubung dengan aktivitas pertanian dan botani dari berbagai daerah, taman-taman ini berperan penting dalam penyebaran tumbuhan yang bermanfaat.

Ketika dunia Islam telah berhasil menciptakan taman-taman indah penuh makna, bangsa Eropa baru dapat menghadirkan taman-taman serupa beberapa abad kemudian.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA