Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Pelaku Serangan Truk di New York Mengaku tak Bersalah

Rabu 29 Nov 2017 10:45 WIB

Rep: Marniati/ Red: Budi Raharjo

Sayfullo Habibullaevic Saipov (29 tahun) adalah tersangka dari serangan teror di Manhattan, New York, pada Selasa sore (31/10) waktu setempat. Ia menabrakkan truk di jalur sepeda.

Sayfullo Habibullaevic Saipov (29 tahun) adalah tersangka dari serangan teror di Manhattan, New York, pada Selasa sore (31/10) waktu setempat. Ia menabrakkan truk di jalur sepeda.

Foto: (St. Charles County Department of Corrections/KMOV via AP

REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK -- Sayfullo Saipov, seorang pria asal Uzbekistan yang menjadi pelaku serangan teror di New York mengaku tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan dan terorisme yang dituduhkan padanya. Dilansir di BBC, Rabu (29/11), Sayfullo Saipov, mengajukan permohonan di pengadilan federal pada Selasa.

Dia menghadapi 22 tuduhan pembunuhan dan terorisme, termasuk memberikan dukungan material untuk Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Saipov ditangkap segera setelah serangan 31 Oktober di Manhattan. Itu adalah serangan paling mematikan di kota tersebut sejak serangan teroris 9/11 di World Trade Center pada 2001.

Tuduhan paling serius yang dialamatkan pada Saipov yakni hukuman mati, meskipun Jaksa belum mengetahui apakah akan mengabulkan tuntutan tersebut atau tidak. Presiden AS Donald Trump berulang kali meminta Saipov untuk menghadapi hukuman mati.

Saipov muncul di pengadilan mengenakan seragam penjara biru tua dengan kakinya dirantai. Seorang pengacara yang ditunjuk pengadilan berbicara atas namanya dan mengajukan permintaan untuk tidak bersalah. Saipov ditembak oleh seorang petugas polisi segera setelah serangan tersebut dan ditangkap.

Dalam sebuah tuntutan kriminal yang diajukan sehari setelah kejadian tersebut, jaksa menggambarkan bagaimana Saipov dilaporkan berbohong tentang apa yang telah dilakukannya di rumah sakit. Penyidik mengatakan dia telah merinci bagaimana Saipov terinspirasi oleh video propaganda yang diproduksi oleh ISIS dan mulai merencanakan serangan tersebut setahun sebelumnya.

Menurut penyidik, Saipov juga mengatakan dia merasa baik-baik saja dengan apa yang telah dia lakukan dan meminta untuk menampilkan bendera kelompok militan tersebut di kamarnya di rumah sakit. Sidang berikutnya dijadwalkan pada 23 Januari.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA