Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Karawang Bangun Sembilan Lumbung Padi Senilai Rp 2,3 M

Selasa 21 Nov 2017 16:33 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Hazliansyah

Leuit atau lumbung padi, di wilayah adat, Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat. (Republika/Edi Yusuf)

Leuit atau lumbung padi, di wilayah adat, Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat. (Republika/Edi Yusuf)

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang membangun infrastruktur penunjang ketahanan pangan berbentuk lumbung (leuit) padi dengan kapasitas 60 ton. Ada sembilan lumbung padi yang akan dibangung dengan anggaran senilai Rp 2,3 miliar.

Kepala Dinas Pangan Kabupaten Karawang, Kadarisman, mengatakan, saat ini pembangunan lumbung padi tersebut sudah mencapai 85-90 persen. Dengan masa pembangunan 75 hari.

Lumbung padi ini tersebar di sembilan kecamatan. Yaitu, Kecamatan Rawamerta, Kutawaluya, Jayakerta, Telagasari, Rengasdengklok, Tirtajaya, Cilamaya Wetan, Pangkalan dan Tegalwaru.

"Anggaran pembangungan leuit ini, bersumber dari dana alokasi khusus (DAK)," ujarnya kepada Republika.co.id, Selasa (21/11).

Dengan adanya lumbung padi ini diharapkan kesejahteraan petani akan meningkat. Sebab, petani bisa menyimpan hasil panennya di lumbung tersebut. Minimal padi untuk konsumsi sendiri bisa disimpan dulu di lumbung tersebut. Mengingat selama ini ada kebiasaan buruk dari petani. Yaitu suka langsung menjual hasil panennya ke tengkulak. Sehingga harga padi petani itu murah.

Namun dengan adanya fasilitas lumbung padi ini diharapkan kesejahteraan petani terdongkrak. Mereka bisa menyimpan padinya di lumbung. Selain itu, sebelum masuk lumbung, padi petani bisa dijemur terlebih dulu.

"Bila padinya kering, maka harganya bisa tinggi. Apalagi dijualnya disaat momen-momen tertentu," ujarnya.

Tak hanya itu, lanjut Kadarisman, dengan adanya lumbung padi ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk ketahanan pangan. Meskipun sampai saat ini dari sisi produksi Karawang masih menjadi daerah surplus padi.

"Yang sering jadi masalah itu soal harga jual hasil panen. Bila panen raya, suka terjun bebas. Ini yang perlu diantisipasi," ujarnya.

Wakil Ketua KTNA Kabupaten Karawang, Ijam Sudjana mengapresiasi adanya fasilitas pertanian ini. Apalagi tujuannya untuk mendongkrak kesejahteraan petani. Mengingat selama ini petani tak bisa menyimpan hasil panen dikarenakan ng tidak ada.

"Petani di Karawang itu mayoritas langsung menjual hasil panennya ke tengkulak. Kalaupun menyimpan padi, untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Tetapi dengan adanya lumbung padi ini diharapkan petani bisa menyimpan padinya. Saat harga terjun bebas, padi tersebut bisa ditahan dulu. Sedangkan jika harga pasaran tinggi, petani bisa melepasnya.

Ita Nina Winarsih

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA