Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Pasien Diabetes Hadapi Risiko Amputasi 25 Kali Lebih Besar

Rabu 08 Nov 2017 04:20 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Gita Amanda

Diabetes (Ilustrasi)

Diabetes (Ilustrasi)

Foto: Huffingtonpost

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu risiko komplikasi yang dihadapi oleh pasien diabetes mellitus (DM) adalah amputasi. Di dunia, penyebab amputasi terbesar adalah penyakit DM.

"Risiko amputasi pada diabetes 25 kali lebih besar dibandingkan pasien bukan diabetesi," ungkap spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik dan diabetes dari RS Pondok Indah dr Wismandari Wisnu SpPD KEMD dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Selasa (7/11).

Amputasi terjadi ketika salah satu bagian tubuh pasien DM sudah mengalami gangren. Gangren adalah sebuah kondisi di mana banyak jaringan tubuh yang mengalami kematian atau nekrosis.

Gangren terjadi setelah pasien DM mengalami luka pada bagian tubuh tertentu, seperti kaki. Luka yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat berujung pada infeksi yang kemudian berkembang menjadi gangren.

Yang cukup mengkhawatirkan, pasien DM juga rentan terhadap gangguan saraf, terutama saraf tepi. Komplikasi ini membuat pasien merasakan sensasi kesemutan hingga kebas pada area tubuh tertentu seperti tangan atau kaki.

Sensasi kebas ini membuat pasien DM sulit menyadari jika ada bagian tubuh mereka yang terluka. Kondisi ini yang kemudian memicu luka pada pasien DM bisa berkembang menjadi gangren dan perlu diamputasi.

Gangguan saraf pada pasien DM dipicu oleh tingginya kadar gula darah dalam waktu lama atau kronis. Tingginya kadar gula darah inilah yang menyebabkan kerusakan pada saraf tubuh pasien DM.

Oleh karena itu, penting bagi pasien DM untuk mengelola penyakitnya sesuai target terapi. Target terapi pasien DM meliputi berbagai aspek mulai dari kontrol kadar gula darah hingga berat badan.

Selain menjalani terapi, pasien DM juga perlu melakukan pencegahan komplikasi melalui modifikasi gaya hidup. Salah satunya dengan pengaturan makan yang seimbang. Pola makan pasien Dm harus teratur baik dari segi jadwal makan, jenis makanan maupun jumlah kandungan kalori.

Komposisi karbohidrat yang disarankan untuk pasien DM adalah 45-65 persen dari total asupan energi. Karbohidrat yang dipilih sebaiknya karbohidrat kompleks. Komposisi lemak yang disarankan adalah 20-25 persen dari kebutuhan kalori dan tidak boleh melebihi 30 persen dari total asupan energi.

"(Komposisi) protein sebesar 10-20 persen dari total asupan energi," sambung Wismandari.

Modifikasi pola hidup lain yang perlu dilakukan pasien DM adalah menjalani aktivitas fisik secara teratur. Pasien DM disarankan untuk melakukan olahraga secara teratur sebanyak 3-5 kali per minggu dengan durasi 30-45 menit. Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang.

"Jangan absen (olahraga) dua hari berturut-turut. Kalau sudah dua hari berturut-turut absen, memulainya lagi akan susah," ungkap Wismandari.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA