Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Jatuh Bangun Komikus Indonesia

Selasa 07 Nov 2017 04:53 WIB

Rep: mj04/ Red: Karta Raharja Ucu

Pameran komik (ilustrasi)

Pameran komik (ilustrasi)

Foto: Raisan Al Farisi/ Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Sekitar lima tahun lalu, dua "pendekar" tenggelam dalam diskusi alot. Keduanya, Sweta Kartika (31 tahun) dan Alex Irzaqi (31), terpikir untuk membuat sebuah padepokan silat. Namun, padepokan ini bukan menampung para pesilat, melainkan para komikus yang khusus menggarap komik silat dan aksi. Namanya Padepokan Ragasukma.

"Meski padepokan komik silat, hanya satu orang saja di sini yang bisa silat," ujar Sweta saat ditemui Republika, September silam. Padepokan Ragasukma menjadi wadah para komikus silat dan aksi, sekaligus penerbit. Dua tahun terakhir, padepokan ini menempati salah satu rumah kontrakan di kawasan Jalan Batik Pekalongan, Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Tercetusnya ide membuat padepokan ini berawal dari pertemuan Sweta dan Irzaqi di dunia maya.

Suatu hari Sweta menerima tawaran mengisi salah satu situs web komik. Di sanalah keduanya saling mengagumi karya komik satu sama lain. Lalu, pada 2012, muncul sayembara Kompetisi Komik Indonesia (KKI). Keduanya sepakat bekerja sama dan menggarap komik silat berjudul Tri Catra Manunggal. Hasil kolaborasi keduanya itu bisa menembus 16 besar. Komik tersebut kemudian diteruskan dalam tiga seri buku dengan tema yang sama. "Sampai akhirnya muncul respons masyarakat tentang komik silat ," kata Irzaqi.

Hingga akhirnya terbentuklah Padepokan Ragasukma. Di padepokan ini sebelas komikus berkumpul melahirkan karya-karya fiksi silat. Di antaranya Sweta, Irzaqi, Dedy Koerniawan, Eka Lesmana, Bayu Harditama, dan Indra. Sebagai penerbit, Padepokan Ragasukma sangat selektif. Irzaqi mencari sendiri komikus-komikus yang nantinya diajak bergabung dalam padepokan.

Tempat bernaung para komikus silat ini terbilang sederhana. Tak ada kursi atau meja gambar mewah. Namun, dari Padepokan Ragasukma ini lahir sekitar 17 ribu komik indie (independen/indi) yang mewarnai jagat perkomikan Tanah Air, bahkan hingga mancanegara. Komik terbitan Padepokan Ragasukma ini dijual berkisar Rp 25 ribu-Rp 30 ribu.

Sebagai penerbit indi, Padepokan Ragasukma lebih menyasar agenda kegiatan untuk memasar kan komik-komik mereka. Seperti saat Festival Komik Nasional, Popcon Asia, atau Mangafest. Untuk menghadapi acara-acara tersebut, biasanya bisa dicetak sampai 1.000 buku komik. "Pasar komik silat adalah pasar kecil. Tapi, alhamdu lillah, karena komik, bisa nyicil rumah," ujar Sweta.

Karya-karya para pendekar komik silat ini pun mendapat respons baik. Komik Pusaka Dewa karya Sweta, misalnya, diadaptasi oleh pengembang untuk dijadikan kartu permainan. Sedangkan komik karya Irzaqi diadaptasi menjadi animasi. "Meski tidak mengejar profit. Adaptasi ini biasanya berguna untuk promosi," kata Sweta.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA