Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Banyak Ritel Tutup, Pelaku Usahanya Masih Optimistis

Rabu 01 Nov 2017 19:09 WIB

Red: Joko Sadewo

(Dari dua kiri ke kanan) Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia Susanto, Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto, CEO SOGO Department Store Handika Santosa, Ketua Umum Aprindo Nicholas Mandey dalam diskusi ritel di Hotel Ibis Harmoni, Rabu (1/11).

(Dari dua kiri ke kanan) Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia Susanto, Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto, CEO SOGO Department Store Handika Santosa, Ketua Umum Aprindo Nicholas Mandey dalam diskusi ritel di Hotel Ibis Harmoni, Rabu (1/11).

Foto: Republika/Melisa Riska Putri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pelaku ritel masih optimis terjadi pertumbuhan pada sektor ini. Meski saat ini tidak sedikit ritel yang terpaksa menutup gerainya.

CEO SOGO Department Stor Handaka Santosa mengatakan, pihaknya optimis akan terjadi pertumbuhan. Perusahaan di bawah MAP grup ini bahkan terus berekspansi. Pada 5 November SOGO akan membuka gerai baru di Supermall Karawaci.

"Kita akan tumbuh terus termasuk sampai akhir tahun," ujarnya saat ditemui usai diskusi ritel di Hotel Ibis Harmoni, Rabu (1/11).

Optimisme tersebut didukung dengan akan hadirnya perayaan Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, di dalam ritel hanya ada dua even besar yaitu Idul Fitri dan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pada saat itu lah penjualan ritel tinggi.

Kenaikan profit pun terjadi pada SOGO Department Store. "Compare ke tahun lalu, hampir 10 persen," kata dia. Sementara target yang dimiliki sebeaar 10 persen.

"Dengan kenaikan seperti itu pun kami sudah bersyukur dengan keadaan ekonomi seperti saat ini," lanjut Handaka.

Tutupnya beberapa ritel termasuk Lotus Department Store yang berada dalam satu MAP Grup, tidak lantas membuat pelaku usaha apatis dan memilih menutup gerai. Sementara uangnya dideposito di bank.


Pihaknya optimistis tetap terus tumbuh guna menjaga agar maayarakat tidak membuang uangnya ke luar negeri. Saat ini, gaya hidup lah yang menjadi penyebab lesunya ritel di tanah air.

Banyak masyarakat Indonesia yang memilih membeli produk luar negeri, atau sengaja ke luar negeri untuk berbelanja. Terlebih dengan adanya kemudahan e-commerce.

Untuk itu, penting bagi pelaku usaha ritel menjaga agar harga barang di Indonesia tetap lebih rendah. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar didorong konsumsi domestik.

"Jadi sebetulnya bisnis ritel ini tidak ada matinya selama tahu apa yang diinginkan konsumen," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA