Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Banjarnegara Paling Rentan Terhadap Ancaman Longsor

Rabu 01 Nov 2017 14:53 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Andi Nur Aminah

Sejumlah warga menyaksikan jalan raya yang amblas di lokasi bencana longsor di Desa Clapar, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah (ilustrasi)

Sejumlah warga menyaksikan jalan raya yang amblas di lokasi bencana longsor di Desa Clapar, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Warga lima daerah di Jawa Tengah diimbau mewaspadai ancaman bahaya tanah longsor. Seiring meningkatnya intensitas hujan, kelima daerah ini selalu memiliki kerawanan terhadap bencana tanah longsor.

Wakil Gubernur (wagub) Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko mengatakan, kelima daerah potensi bahaya longsor ini meliputi Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Purworejo dan Kabupaten Kebumen. Di luar kelima daerah ini, Kabupaten Semarang juga termasuk rentan longsor karena topografi wilayahnya yang berbukit-bukit. Sehingga juga penting meningkatkan kewaspadaan masyarakatnya, kata Heru, Rabu (1/11).

Ia menjelaskan, setiap musim penghujan tiba, Jawa Tengah harus bersiap-siap menghadapi ancaman bencana tanah longsor dan banjir. Banjir sudah terjadi di wilayah Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen.

Meski laporan bencana tanah longsor berskala besar hingga merusakkan infrastruktur belum ada laporan, namun kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Imbauan ini terutama bagi warga yang selama ini tinggal di daerah rawan bencana longsor karena keterbatasan lahan hunian.

Kondisi seperti ini diakui wagub jamak ditemukan di Kabupaten Banjarnegara. Karena lahan yang terbatas, daerah bergunung- gunungpun dijadikan kawasan hunian, meski konstruksi tanahnya berbahaya. Sehingga perlu diingatkan agar tidak membangun rumah tidak di tempat-tempat yang rawan tertimpa longsoran atau longsor lahannya.

"Untuk persoalan seperti ini kita memang mudah ngomongnya tapi tidak mudah solusinya. Namun untuk selalu mengingatkan agar waspada terhadap bahaya yang mengancam, tak ada jeleknya," tegas Heru.

Solusi untuk menghindari terjadi longsor terutama di daerah rawan tersebut, katanya, secara teoritis memang transmigrasi. Namun untuk saat ini tidak mudah memberangkatkan orang yang mau bertransmigrasi.

Bentuk-bentuk kewaspadaan lainnya, masih kata wagub, jika saat musim kemarau ada tanah yang merekah, pada musim penghujan harus lebih berhati-hati. Sebab rekahan tanah tersebut rentan menjadi jalan utama air hujan masuk ke dalam tanah.

Kalau air yang masuk semakin banyak, dan struktur tanahnya mudah rapuh, maka sangat rawan terjadi longsor. "Kasus seperti ini jamak terjadi di Banjarnegara yang konstruksi tanahnya unik," tegas Heru.

Hal lain yang penting dilakukan adalahmembangun sistem komunikasi dan koordinasi yang intens, oleh masyarakat, perangkatdesa, aparat berwenang dalam pencegahan dan penanganan bencana alam.

Dengan komunikasi dan sistem koordinasi yang baik, dia mengatakan, akan memudahkan upaya penanganan serta tindakan yang perlu dilakukan jika terjadi bencana alam yang dimaksud. Masih terkait dengan ancaman bencana longsor, Bupati Semarang, Mundjirin mengatakan telah membuat pemetaan kawasan berbasis tingkat kerawanan. "Kawasan Wirogomo dan Sepakung menjadi prioritas kewaspadaan tanah longsor," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA