Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Jakarta Dinilai Harus Diet, Reklamasi Bukan Jawaban

Jumat 27 Okt 2017 18:53 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Karta Raharja Ucu

Kondisi pulau reklamasi C dan D, Jumat (24/3).

Kondisi pulau reklamasi C dan D, Jumat (24/3).

Foto: Republika/Singgih Wiryono

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli tata ruang dari Universitas Indonesia (UI), Andy Simarmata, berpendapat, Jakarta harus melakukan diet. Menurutnya reklamasi bukan jawaban dari membludaknya jumlah populasi di Jakarta.

Dalam dialog 'Jalan Keluar Reklamasi Teluk Jakarta' yang digelar di Kantor KPBB Gedung Sarinah, Rabu (25/10), Andy membahas mengenai tata kota dan hubungannya dengan Reklamasi. Ia membahas mengenai perlunya perhatian khusus kapasitas Teluk Jakarta.

"Tanyakan kolega-kolega saya di Urban Planner, Jakarta ini butuhnya program diet. Bukan program mengembang terus. Kalau mengembang terus ya begini jadinya," ucap Andy di Gedung Sarinah, Kantor KPBB, Jakarta, Rabu (25/10).

Menurutnya dalam membahas pulau reklamasi di Teluk Jakarta yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perhitungannya. Termasuk di dalamnya membangun kota secara berkelanjutan.

Ia juga menyebut, dalam membangun suatu pulau di Teluk Jakarta harus diperhitungkan bagaimana kapasitas Teluk tersebut. Apakah sanggup menampung 17 'anak' atau hanya sanggup lima atau tujuh saja.

Hal lainnya yang perlu menjadi bahan pertimbangan adalah adanya 13 anak sungai yang mengalir ke Teluk Jakarta. Sungai-sungai ini memberi kontribusi pada endapan material di tempat tersebut.

"Yang berikutnya yang jadi poin penting 13 sungai yang juga memberikan kontribusi terhadap endapan material dimuara, itu juga pemberesannya seperti apa. Kalau hanya fokus pada pulau yang istilahnya ditanam pada air itu masalahnya gak hanya di situ," ujar Andy.

Andy melanjutkan sebenarnya sebelum dilakukan reklamasi tingkat pencemaran laut di Teluk Jakarta sudah mengkhawatirkan. Saat terjadi rekonstruksi bisa dipastikan air akan menjadi keruh.

"Memang pada saat rekonstruksi yang kaya sekarang sudah dipastikanlah itu pasti akan terjadi keruh disekitar situ. Jadi orang kalau mau melakukan sesuatu pasti juga gak akan sehat di situ," ucap Andy

Jika ditanya apakah Jakarta masih membutuhkan ruang maka Andy menyebutkan ampai kapanpun jawabannya Jakarta membutuhkan itu. Namun sampai kapan akan dilakukan pelebaran atau pengembangan seperti reklamase ini.

Ada image impression dari orang yang bermimpi bahwa: 'Jakarta tenang saja kalaupun kamu obesitas, kamu masih bisa hidup sehat'. Itu tidak bisa dibiarkan. Indonesia punya 33 provinsi yang lain.

Jakarta, menurutnya harus melakukan diet. Harus dibagi ke wilayah yang lain. Jika tidak maka efeknya akan seperti manusia yang kebanyakan gula bisa menyebabkan diabetes.

"Ini menurut saya harus jadi mindset ketika menyusun ruang Jakarta. Saatnya Jakarta berfikir bagaimana cara agar lebih sehat. Warganya juga lebih sehat. Daripada kita terus melakukan ekspansi," ujar Andy.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA