Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Serangan Udara AS Tewaskan 14 Militan ISIS di Afghanistan

Sabtu 14 Oct 2017 20:18 WIB

Rep: Fira Nursya’bani/ Red: Endro Yuwanto

Seorang tentara Amerika Serikat sedang berjalan di kebun Opium di Afghanistan.

Seorang tentara Amerika Serikat sedang berjalan di kebun Opium di Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL - Serangan udara dari pesawat tak berawak Amerika Serikat (AS) telah menewaskan sedikitnya 14 militan ISIS. Menurut keterangan pejabat pemerintahan setempat, serangan tersebut terjadi di daerah terpencil di Provinsi Kunar timur, Afghanistan, pada Kamis (12/10) siang.

Juru bicara Gubernur Kunar, Abdul Ghani Musamim, mengatakan pesawat tak berawak AS itu telah menargetkan pertemuan para komandan ISIS yang tengah merencanakan serangan teroris. Pemerintah Afghanistan tidak memiliki kendali atas wilayah tempat para teroris yang berafiliasi dengan ISIS itu membangun markas.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Dawlat Waziri, juga mengkonfirmasi laporan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada komentar langsung dari pasukan koalisi pimpinan AS di Afghanistan.

Dilansir dari The Guardian, seorang anggota parlemen untuk Provinsi Kunar, Shahzada Shaheed, telah meragukan laporan tersebut dan mengklaim korban serangan udara itu adalah warga sipil.

AS telah melakukan pemboman di Afghanistan sejak akhir 2001 dan serangan udara terus berlanjut di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Lebih banyak serangan pesawat tak berawak dan misi operasi khusus telah ditujukan ke kubu ISIS.

Kehadiran ISIS di Afghanistan semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. AS memperkirakan, ada sekitar 600 sampai 800 militan ISIS di Afghanistan, yang mayoritas berada di Nangarhar.

Saat ini, ribuan tentara AS masih berada di Afghanistan. Pasukan itu juga membantu pasukan Afghanistan dalam memerangi kelompok Taliban di berbagai belahan negara.

AS menggunakan bom non-nuklir terbesar yang pernah dijatuhkan dalam pertempuran melawan ISIS di Nangarhar pada April 2017 lalu. Serangan bom ini menargetkan sebuah kompleks terowongan yang berada di pegunungan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA