Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Bupati: Aceh Barat Potensi Disusupi Kelompok Radikal

Rabu 27 Sep 2017 16:00 WIB

Red: Endro Yuwanto

Pembacaan puisi di acara Temu Penyair Nusantara, Meulaboh, Aceh Barat.

Pembacaan puisi di acara Temu Penyair Nusantara, Meulaboh, Aceh Barat.

Foto: Dok TPN

REPUBLIKA.CO.ID,  MEULABOH -- Bupati Aceh Barat Dr (HC) Teuku Alaidinsyah menyatakan, daerahnya termasuk kawasan strategis yang berpotensi menjadi tempat penyebaran paham radikal yang mengatasnamakan Islam.

"Dengan mengatasnamakan Islam, mereka dari kelompok tertentu bisa saja mempengaruhi masyarakat lokal untuk melakukan tindakan sesuai keinginan mereka," kata Alaidinsyah, Rabu (27/9).

Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahli Dr Erwansyah saat membuka acara forum dialog di daerah dalam rangka kewaspadaan nasional angkatan II tahun 2017. Alaidinsyah mengajak peran aktif tokoh adat, tokoh agama, pemuda untuk menangkal berkembangnya paham radikal di tengah masyarakat.

Media massa juga menjadi salah satu elemen sangat penting dalam menangkal penyebaran paham radikal. "Karena itu kemitraan rakyat dan aparat keamana harus dibangun dengan baik sehingga terjalinnya komunikasi yang baik. InsyaAllah ruang gerak kelompok radikal akan bisa kami patahkan," katanya menegaskan.

Alaidinsyah menyatakan, kelompok-kelompok radikal saat ini sudah memiliki kemampuan untuk melakukan propaganda, pengumpulan pendanaan, pengumpulan informasi, perekrutan serta penghasutan dengan menggunakan jejaring sosial.

Propraganda radikal teror juga dapat dilihat dengan munculnya ratusan website, buku-buku, serta postingan di media sosial yang secara aktif menyebarkan paham intoleran, menghasut, dan menyebarkan kebencian di antara sesama anak bangsa. "Untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal, harus ada tindakan preventf melalui pendekatan sosial dan kearifan lokal. Khususnya untuk Kabupaten Aceh Barat, penguatan nilai-nilai agama, budaya, dan toleransi sangat penting diterapkan," imbuhnya.

Lebih lanjut Alaidinsyah mengatakan, semua itu dapat dimulai dari yang paling kecil, yaitu melindungi keluarga dengan memberikan pengajaran agama yang benar dan selalu memantau aktifitas keluarga agar terhindari dari hal-hal yang melanggar aturan.

Alaidinsyah juga menyingung persoalan konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan TNI yang pernah terjadi di Aceh. Konflik masa lalu itu hendaklah dijadikan sebuah pembelajaran dan pengalaman pahit. "Konflik sesungguhnya hanya akan membawa kita pada kerugian besar yang nyata, bukan hanya material tetapi juga immaterial," jelasnya.

Konflik yang terjadi di tingkat nasional maupun lokal, menjadi perhatian serius Pemerintah Pusat, termasuk di dalamnya gejala-gejala potensi konflik yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional," demikian Alaidinsyah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA