Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Kota Aachen Keluarkan Tablet Iodium untuk Warganya

Sabtu 02 Sep 2017 01:41 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Andi Nur Aminah

Reaktor nuklir yang mengkhawatirkan warga Jerman di dekat perbatasan Belgia

Reaktor nuklir yang mengkhawatirkan warga Jerman di dekat perbatasan Belgia

Foto: AFP

REPUBLIKA.CO.ID, AACHEN -- Pemerintah Kota Aachen, Jerman mulai mengeluarkan tablet iodium gratis untuk sekitar 500 ribu penduduk dan orang-orang yang tinggal di sekitar kota tersebut. Sebab, pembangkit nuklir di Belgia yang lokasinya berdekatan dengan Aachen sudah tua dan dipandang sebagai sebuah risiko.

Langkah Kota Aachen untuk mendistribusikan tablet ini sangat tidak biasa karena tidak diminta oleh keadaan darurat tertentu. Aachen mendapat persetujuan ini dari Pemerintah Daerah Rhine-Westphalia Utara.

Penduduk dapat mendaftar di situs kota untuk menerima kupon yang dapat ditukar di apotek yang memberikan tablet iodium. Iodium dapat mengurangi risiko kanker tiroid setelah pelepasan radiasi nuklir.

Dosis tablet tergantung pada usia seseorang. Pihak berwenang mengatakan orang berusia lebih dari 46 tahun tidak mendapatkan tablet iodium. Sebab bagi mereka risiko efek samping tablet tersebut lebih besar dari risiko kanker radioaktif. Mereka bisa diberi resep obat tiroid alternatif berupa irenat.

Dosis awal pottasium iodium adalah dua pil per orang dewasa atau anak-anak berusia 13 atau lebih. Anak-anak berusia tiga sampai 12 tahun akan mendapatkan satu pil, balita mendapatkan setengan pil, dan bayi mendapatkan seperempat pil.

Juru bicara kantor kota madya Aachen, Rita Kloesges khawatir keretakan reaktor semakin membesar selama lebih dari dua tahun. “Kami telah berbicara berulang kali dengan Belgia mengenai hal ini. Namun kami tidak membuat mereka mematikan reaktor,” ujar Kloesges, dikutip dari BBC, Jumat (1/9).

Jerman akan menyelenggarakan pemilihan parlemen pada 24 September mendatang. Namun Kloesges menekankan bahwa distribusi tablet iodium tidak ada hubungannya dengan pemilihan itu. “Hanya kebetulan terjadi sekarang dan hanya mempengaruhi satu area kecil di Jerman,” katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA