Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Muhammadiyah Ingin Bangkitkan Semangat Kedermawanan

Kamis 24 Aug 2017 18:35 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Fernan Rahadi

r. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (tengah) berbincang bersama Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari saat sidang pleno Tanwir Muhammadiyah di Islamic Center, Ambon, Maluku, Ahad (26/2).

r. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (tengah) berbincang bersama Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari saat sidang pleno Tanwir Muhammadiyah di Islamic Center, Ambon, Maluku, Ahad (26/2).

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Lingkungan Hidup, Kebencanaan dan ZIS Hajriyanto Y Thohari mengatakan Muhammadiyah adalah gerakan filantropi Islam terbesar. Saat ini Muhammadiyah ingin membangkitkan kembali semangat kedermawanan dan sikap welas asih melalui trisula baru Gerakan Muhammadiyah.

Trisula baru ini merupakan tiga bidang unggulan untuk gerakan excellence. Pertama, memantapkan kepeloporan Muhammadiyah dalam penanganan dan penanggulangan bencana melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Kedua, dakwah pemberdayaan masyarakat melalui tani, buruh, dan nelayan. Ketiga, mengembangkan LazismU sebagai sumber pendanaan gerakan sosial dan kemanusiaan Muhammadiyah.

Trisula baru Gerakan Muhammadiyah ini menjadi penanda utama gerakan Muhammadiyah pada abad kedua. Jika pada abad pertama gerakan Muhammadiyah penekanannya pada bidang pendidikan, kesehatan dan sosial, maka menginjak usia abad kedua penekanan gerakan Muhammadiyah pada tiga gerakan trisula baru tersebut. 

Gerakan pertama  melalui MDMS saat ini telah berkembang pesat. Bukan hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga hingga tingkat dunia. MDMC, menurut Hajriyanto, mempelopori Humanitarian Forum Internasional yang berpusat di London dan  mendirikan Humanitarian Forum Indonesia bersama-sama dengan badan-badan penolong bencana alam yang berbasis organisasi keagamaan, seperti Karina (KWI), Yakkum, dan lainnya.  

MDMC juga bekerja sama dengan DEFAT (Department of Foreign Affair and Trade) Australian Government melakukan pelatihan HPCRED di seluruh Indonesia sejak tiga tahun lalu hingga saat ini masih terus berlangsung. HPCRED (Hospital Preparadness and Community Readiness emergency and Disaster atau Kesiapsiagaan rumah sakit dan kesiapan masyarakat untuk kedaruratan dan bencana) telah dilakukan selama tiga kali. Kerja sama ini bertujuan untuk melakukan pelatihan agar RS Muhammadiyah menjadi rumah sakit siaga bencana. 

Pada akhir periode ini, kata Hajriyanto, Muhammadiyah menargetkan akan memiliki Satgas Penanggulangan Bencana di seluruh Indonesia yang berbasis di Rumas Sakit PKU Muhammadiyah, sekolah dan universitas Muhammadiyah, serta basis daerah Muhammadiyah. "MDMC dengan demikian telah menjadi pewaris dan pelanjut gerakan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1920. MDMC dan LazisMU boleh dikatakan sebagai gerakan Muhammadiyah yang paling otentik saat ini,"jelas dia.

Menurut Hajriyanto, MDMC dan Lazismu bukan hanya otentik Muhammadiyah, melainkan juga original Muhammadiyah. Watak Muhammadiyah yang bersemangat kedermawanan (filantropi) dan welas asih kini termanifestasi atau terejawantah dalam gerakan MDMC dan Lazismu.

Program sosial lain adalah da­lam rangka mudik tahun 2017 yang lalu Lazismu membuka posko-posko mudik di seluruh jalur mudik. Pada Idul Kurban 2017 ini, sebagaimana tahun-tahun  lalu, Lazismu menghimpun hewan kurban dan menyalurkannya ke­pada masyarakat yang membutuhkannya. Lazismu bekerja sama dengan banyak pihak untuk menghimpun hewan kurban. 

Hingga saat ini MDMC didanai oleh LazisMu. Menurut laporan resmi  BAZNAS, sejak tahun 2016,  Lazismu telah menjadi lembaga amil zakat terbesar di Indonesia. Artinya, dengan membayar zakat, infak atau sedekah kepada Lazis­mu berarti telah membantu pena­nganan bencana alam yang terjadi di negeri ini, bahkan juga di ne­gara lain.

Pemberdayaan masyarakat

Program sosial Muhammadiyah yang merubah wajah Muhammadiyah lainnya adalah pemberdayaan masyarakat. Melalui program pemberdaya­an masyarakat, Muhammadiyah berupaya sekuat tenaga masuk me­ngatasi persoalan fundamental masyarakat dengan melakukan penguatan diberbagai level yakni, mikro (individu dan komunitas),  meso (masyarakat) dan makro (politik, kebijakan).

Program masyarakat ini dibungkus dengan jihad pemberda­ya­an yang terdiri dari: pertama, jihad menegakan kedaulatan pa­ngan melalui pertanian terpadu yang sudah masuk di 90 Kabupa­ten di Jawa dan luar Jawa. Kedua, jihad pem­berdayaan penyandang disabilitas, yang sukses melakukan pengorganisasian, penguatan ka­pa­sitas dan advokasi perda ramah disabilitas di berbagai daerah.

Ke­tiga, jihad pemberdayaan buruh migran, di Malaysia dan Taiwan. Keempat, jihad pemberdayaan kelompok marginal, miskin kota. Kelima, jihad pemberdayaan masyarakat tertinggal (kawasan 3T), yakni ke­pada suku asli di Pa­pua, Suku Da­yak di pedalaman Kalimantan Ti­mur, suku asli Nusa Tenggara Ti­mur (NTT) di Flores dan kawa­san perbatasan di Sebatik.

Program ekonomi produktif di wilayah 3T dilakukan oleh Lazismu bersama Majelis Pemberda­ya­an Masyarakat (MPM) PP Mu­hammadiyah dalam kerangka Tri­sula Baru Gerakan ­Mu­ham­ma­­-di­­yah. Program yang dilaku­kan, di an­taranya Program Sing­kong Kingkong. Program ini me­ru­pakan gerakan kembali bertani dan tanam singkong kingkong.

Program lainnya adalah  Klinik Apung di Indonesia Timur. Klinik apung pertama yang diluncurkan Lazismu adalah Klinik Apung Said Tuhulele di Ambon, disusul de­ngan enam Kapal Klinik Apung lain­nya pada tahun ini. Kapal Kli­nik Apung dengan harga sekitar Rp 3,5  miliar tersebut telah bero­perasi di Ambon dan sekitarnya sejak awal 2017.

Di bidang Lingkungan hidup, Muhammadiyah memiliki Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Bebe­rapa tahun terakhir MLH Muhammadiyah menginisiasi gerakan peduli lingkungan dan air. 

Tahun ini MLH gencar mela­kukan upaya edukasi isu penge­lolaan dan konservasi sumber da­ya air dan juga pelestarian kawasan sungai. Kondisi sebagian besar sungai di Indonesia yang menga­lami kerusakan mendapat perha­tian khusus dari MLH. Salah satu bentuk perhatian khusus dalam menjaga kelestarian lingkungan sungai adalah dibukanya Sekolah Sungai Muhammadiyah di kawa­san Kali Code, Yogyakarta.

MLH Muhammadiyah juga me­miliki program sedekah sam­pah. Program ini sudah berjalan se­jak  2011 di beberapa wilayah, di an­taranya Kalimantan, Bandung, dan Yogyakarta.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA