Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Dinas LH Ragukan Akurasi Data Greenpeace Soal Kualitas Udara

Senin 31 Jul 2017 18:16 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Andi Nur Aminah

Polusi udara

Polusi udara

Foto: Republika/Darmawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menanggapi data Greenpeace Indonesia tentang buruknya kualitas udara di Yogyakarta, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta Andono Warih mengatakan pembangunan infrastruktur yang dilakukan di sejumlah area di Jakarta memang menyebabkan peningkatan polusi udara. Namun, data yang disajikan Greenpeace Indonesia dinilai masih meragukan.

"Alat yang dia pakai itu kan alat portable. Cocoknya untuk pengukuran indoor, untuk di dalam ruangan. Kalau dipakai di luat ruang tinggi banget hasilnya," kata Andono ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (31/7).

Menurut dia, kedua alat tersebut pernah dipakai secara bersandingan. Hasilnya, alat portable menunjukkan hasil yang lebih tinggi karena lebih cocok dipakai di dalam ruangan. Andono menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta telah memiliki data real time di lima lokasi di Jakarta. Data dan pengukuran itu selalu dilaporkan dan divalidasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Walaupun begitu, Andono tak menampik adanya peningkatan jumlah polutan di DKI Jakarta yang disebabkan banyaknya pengerjaan infrastruktur. Beberapa proyek menyebabkan peningkatan kemacetan. "Tapi /enggak sebombastis itu sehingga dikatakan tidak sehat," kata Andono.

Ia menjelaskan, di tengah pengerjaan projek tersebut, ada jam-jam tertentu hingga tengah hari, dimana kemacetan meningkat. Ditambah dengan musim kemarau, maka terjadi peningkatan ozon di udara. Ozon bersifat mengikat asap dan sinar matahari, sehingga dapat menyebabkan radikal bebas.

Hal yang sama juga terjadi di Warung Buncit yang kini menjadi lokasi pengerjaan proyek underpass fly over. Namun, ia yakin bahwa itu hanya bersifat temporer. Apalagi Jakarta Selatan merupakan tempat yang memiliki lebih banyak ruang hijau dibandingkan wilayah lainnya. "Kalau nanti projek sudah selesai, lalu lintas lebih lancar, enggak akan seperti itu," kata dia.

Jakarta Selatan juga tidak begitu banyak memiliki sumber polusi dari cerobong asap. Apalagi, Andono mengatakan, Jakarta tidak terlalu mendukung kegiatan industri yang mencemari udara dan air.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA