Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Museum, Fakta Sejarah Perjuangan Muhammadiyah

Kamis 27 Jul 2017 19:31 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Fernan Rahadi

Prof Dadang Kahmad

Prof Dadang Kahmad

Foto: Republika/Yogi Ardhi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Pusat (PP) Muham­madiyah akan membangun Museum Muhammadiyah di kawasan kampus Universitas Ahmad Dahlan-Kampus IV, Yogyakarta. Pembangunan museum akan dimulai awal tahun depan, dan ditar­getkan rampung  pada 2019. Museum ini nantinya  bakal  menjadi wadah sejarah perjuangan Muhammadiyah sejak awal hingga sekarang.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, Prof Dadang Kahmad mengatakan, Muhammadiyah sudah berusia seratus tahun lebih. Selama itu pula Muhammadiyah sudah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan kehidupan bangsa dan Negara, termasuk berkontribusi kepada umat Islam di Tanah Air.

"Kita ingin jejak langkah dari Mu­hammadiyah, terutama jejak langkah tokoh-tokohnya menjadi teladan, khu­susnya bagi warga Muhamma­diyah yang masih muda-muda,” ujar Dadang saat ditemui Republika di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (24/7).

Ia menjelaskan, dibangunnya Museum Muhammadiyah, supaya generasi muda bisa meneladani tokoh-to­koh Muhammadiyah yang telah berjuang dengan ikhlas. Mereka telah membaktikan diri untuk masyarakat, Negara, dan agama dengan ikhlas.

Di samping itu, Muhammadiyah yakin mempunyai segudang pening­galan yang perlu dilestarikan, sehingga membutuhkan wadah, seperti museum. Museum ini juga akan berfungsi sebagai sarana pendidikan, rekreasi, dan evaluasi. Dengan demikian generasi saat ini bisa melakukan evaluasi dengan melihat sejarah masa lalu di museum. 

Dadang  yang juga ketua Panitia Mu­seum Muhammadiyah menjelas­kan, Museum  ini menampung masa la­lu dan sekarang. Di dalamnya akan ada artefak, manuskrif kuno, dan benda-benda bersejarah. "Sebagai museum modern, kita akan lengkapi dengan diorama dan visualisasi dari per­juangan Muhammadiyah di se­luruh Indonesia," ujarnya.

Disebutkan, isi museum yang pa­ling utama adalah bukti-bukti perju­angan Muhammadiyah sejak didirikan pada tahun 1912 sampai hari ini. Museum juga akan sangat bermanfaat ba­gi pengunjung. Mereka bisa menga­m­bil pelajaran dari kisah perjuangan tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Pengunjung bisa melihat masa lalu melalui museum kemudian belajar darinya. “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad, kita belajar dari masa lalu untuk mencari sesuatu yang lebih baik pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Dengan melihat isi Museum Mu­ham­madiyah, lanjut  Dadang, masya­ra­kat bisa mendapatkan pelajaran yang berharga dari kisah para pejuang Mu­hammadiyah saat menghadapi Be­lan­da, Jepang, dan mempersiapkan Ke­mer­dekaan Indonesia. Juga belajar dari kisah tokoh-tokoh yang mengisi kemer­dekaan Indonesia sampai hari ini.

Dengan mengunjungi museum  ini pula dan melihat fakta sejarah perjua­ngan tokoh-tokoh bangsa, diharapkan akan bisa membangkitkan nasionalisme. “Ketika rasa nasionalisme tumbuh kuat, perjuangan untuk kehidupan bang­sa dan negara akan turut menguat,” ujarnya Di samping itu, menge­ta­hui sejarah bisa menambah kecintaan kepada bangsa dan negara.

Tempat Belajar

Keberadaan Museum Muhammadiyah akan sangat bermanfaat untuk masyarakat Indonesia, khususnya bagi anak muda. Keberadaan museum ini juga  dapat diterjemahkan sebagai suatu pesan dari organisasi yang berke­majuan.

Ketua Umum PP Pemuda Muham­madiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, pembangunan museum ini  secara umum untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Terutama edukasi kepada warga Muhamma­di­yah, khususnya generasi muda."Keberadaan museum itu penting, museum sebagai tempat rekreasi dan  belajar," katanya.

Dahnil melanjutkan, di negara-ne­gara maju, tempat rekreasi yang paling banyak digemari adalah museum. Bah­kan, di sebuah kota di negara yang maju, terdapat banyak museum. Menurutnya, Museum Muhammadiyah akan menjadi simbol dan pesan dari Muhammadiyah. Sebab, salah satu simbol dari peradaban yang maju, salah satunya adalah museum modern tempat belajar dan rekreasi.  "Itu (Museum Muhammadiyah) simbolisasi pesan berkemajuan yang disampaikan oleh Muhammadiyah," ujarnya.  

Bagi anak-anak muda Muham­ma­diyah, Dahnil melanjutkan, kebera­da­an museum tersebut  sangat penting. Bisa menjadi tempat belajar, me­ma­hami dan meneladani watak perjuangan Muhammadiyah melalui tokoh-tokohnya.

Menurut pandangan Pemuda Muhammadiyah, keberadaan museum itu bukan sekadar informasi tentang Muhammadiyah saja. Tentu di dalamnya ada informasi sejarah  mengenai Indonesia. "Karena keberadaan Republik ini tentu tidak bisa lepas dari peran serta Muhammadiyah beserta tokoh-tokohnya," terang Dahnil.

Ia mengatakan, KH Ahmad Dahlan, Bung Karno, Jenderal Soedirman, KH Ahmad Badawi, Ki Bagus Hadikusumo dan Ir Djuanda. Semuanya adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah. Mereka berperan dalam upaya me­mer­dekakan Indonesia. Jadi, Museum Muhammadiyah bisa menjadi tempat untuk memperkuat pemahaman kader-kader muda Muhammadiyah.

Berdiri di Area Kampus

Museum Muhammadiyah rencananya akan dibangun di dekat Univer­sitas Ahmad Dahlan-Kampus IV, Jalan Ring Road, Yogyakarta. Dipilihnya lokasi tersebut karena aksesnya mudah dan dekat ke jalan raya.

Di lokasi ini juga lahannya cukup luas, sehingga memungkinkan untuk melakukan perluasan di masa yang akan datang. "Nanti museum ini mem­punyai keunikan dari (arsitektur) bangunan dan tempat parkir yang sangat luas," ujar Dadang.

Berdiri di atas lahan satu hektare, museum akan dibangun setinggi enam lantai. Setelah Museum Muhammadiyah berdiri, pengelolaan dan pemeliharaannya  akan diserahkan kepada Universitas Ahmad Dahlan. Para ahli museum yang dimiliki oleh Muhammadiyah juga akan dilibatkan di sana. 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA