Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Dianjurkan Pabrikan, Konsumen Lebih Memilih BBM Oktan Tinggi

Selasa 23 Okt 2018 13:10 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Terios Spirit

Terios Spirit

Anggota Terios Rush Club Indonesia (TeRuCi) memakai BBM oktan 92.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan harga BBM seri Pertamax beberapa waktu lalu tidak menyurutkan masyarakat untuk memakai BBM dengan oktan tinggi. Salah satu penyebab, karena industri otomotif memang menganjurkan pemilik kendaraan bermotor untuk mengisi dengan BBM berkualitas. “Di buku panduan memang tertulis. BBM yang dipergunakan minimal harus oktan 92,” kata Ketua Umum Terios Rush Club Indonesia (TeRuCi), Budi Sunarto di Jakarta, Selasa (23/10).

Karena itulah, menurut Budi, hampir seluruh anggota TeRuCi yang berjumlah sekitar 2.700 orang, mempergunakan BBM dengan oktan di atas 92. Sedangkan sisanya, yaitu 10 persen, memakai BBM RON 92 dan sedikit yang mempergunakan BBM RON 90. “Anjuran pabrikan tersebut turut meningkatkan kesadaran anggota. Kalau dihitung, sekitar 90 persen anggota TeRuCi saat ini memakai BBM dengan RON di atas 92,” lanjut dia, dalam rilisnye kepada Republika.co.id.

Karena itulah Budi yakin bahwa anggota TeRuCi dan juga pemilik Terios dan Rush lain di Indonesia, tidak akan beralih menggunakan BBM dengan angka oktan lebih rendah. Selain karena anjuran pabrikan tadi, juga karena pemilik kendaraan bermotor memang merasakan manfaat BBM berkualitas tinggi, yaitu BBM dengan oktan minimal 92.

“Para anggota TeRuCi sering berkumpul, mengadakan touring, dan juga diskusi melalui WhatsApp Grup. Dari pembicaraan yang ada, tidak ada yang mempersoalkan kenaikan harga. Mereka lebih senang membahas keunggulan BBM RON tinggi,” lanjut Budi.

Budi menambahkan, para anggota TeRuCi memang merasakan manfaat BBM dengan oktan minimal 92. Dan manfaat itu dirasakan ketika para anggota melakukan touring bersama ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk yang memiliki medan sangat menantang, seperti adanya tanjakan tajam dan panjang. “Di Wonosobo dan Bromo, dengan BBM oktan di atas 92, kami enteng saja melewati berbagai tanjakan di daerah tersebut. Bahkan kami bisa menanjak dengan gigi tiga,” kata Budi.

Di sisi lain, Budi juga menepis bahwa penggunaan BBM oktan tinggi sangat boros. Memang, lanjut dia, jika dilihat dari harga satuan per liter, harga BBM oktan tinggi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan oktan yang lebih rendah. Tetapi jangan lupa, bahwa penggunaan kendaraan adalah dalam jangka panjang. Dengan mesin yang lebih terpelihara, maka BBM oktan tinggi sebenarnya jauh lebih ekonomis. “Belum lagi konsumsinya yang juga termasuk irit, bisa mencapai 1:15,” jelasnya. JAKARTA

Sumber : Rilis
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES