Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Direktur CIA: Hubungan Rusia dan AS Tetap akan Rumit

Jumat 21 Jul 2017 13:44 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Agus Yulianto

Badan Intelejen Amerika Serikat, CIA

Badan Intelejen Amerika Serikat, CIA

Foto: CIA.gov

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Direktur dari Badan intelijen Pusat Amerika Serikat (AS) atau CIA, Mike Pompeo mengatakan Rusia akan terus memiliki hubungan yang rumit dengan negaranya. Ia meyakini, bahwa Moskow tak akan pernah berhenti memperkeruh kepentingan yang melibatkan kedua belah pihak.

Dikatakan dia, bahwa Rusia memang menjadi negara yang mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016. Pompeo juga menilai, bahwa Moskow dan Washington akan terus berada di pihak berlawanan dalam berbagai hal, termasuk yang utama saat ini adalah konflik Suriah.

Selama ini, AS dan Rusia telah berada di pihak berlawanan dalam konflik Suriah. Negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin itu mendukung Pemerintah Suriah yang dipimpin oleh Presiden Bashar Al Assad.

Sementara, Washington berada di pihak oposisi. AS selama ini telah memberikan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang berupaya menggulingkan Assad dan telah meminta pemimpin negara itu untuk mundur meninggalkan kekuasaannya.

"Saya pikir Rusia akan terus menemukan tempat, di mana mereka bisa membuat AS menjadi lebih kesulitan dan itu dirasa sebagai sesuatu hal yang berguna," ujar Pompeo, dilansir The Guardian, Jumat (21/7).

Pompeo menekankan, hingga saat ini, diirnya hanya melihat sedikit bukti bahwa Rusia benar-benar menerapkan strategi untuk melawan kelompok-kelompok militan di Suriah, di antaranya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sebelumnya, kedua negara berkoordinasi untuk melakukan kerja sama militer dalam melakukan hal itu, sekalipun dalam konflik di Suriah masing-masing berada di posisi berlawanan.

"Meski demikian, saya berharap bahwa masih ada area di mana AS dan Rusia dapat bekerjasama, khususnya dalam memberantas terorisme," ujar Pompeo.

Rusia dan AS merupakan mantan musuh pada era Perang Dingin. Sejak saat itu, kedua negara besar ini tidak pernah memiliki hubungan kerjasama yang baik dan hangat, terlebih menjadi sekutu.

Salah satu titik terendah hubungan kedua negara disebut berlangsung di era pemerintahan mantan presiden AS Barack Obama. Bahkan, di akhir masa jabatan, tepatnya pada Desember 2016 ia mengeluarkan keputusan untuk mengusir 35 diplomat Rusia dari Negeri Paman Sam.

Namun, Pemerintah AS yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump sejak 20 Januari lalu disebut memiliki kedekatan khusus dengan Rusia. Hubungan kedua negara dianggap berlangsung dengan lebih baik, khususnya dalam melakukan kerjasama di bidang kontra terorisme.

Tetapi, kontroversi publik terhadap hubungan kedua negara terus bermunculan. Sejak terpilih sebagai presiden, Trump juga telah menghadapi dugaan bahwa Rusia telah melakukan campur tangan untuk mendukungnya dalam pemilu AS.Badan Intelijen AS juga meyakini ini termasuk dalam dugaan peretasan yang dilakukan selama proses pemungutan suara berlangsung.

Kasus ini semakin mendesak Trump dan tim kampanye saat itu, setelah mantan direktur FBI yang dipecat, James Comey memberi kesaksian. Ia mengatakan bahwa upaya penyelidikan dugaan campur tangan Rusia telah dilemahkan oleh miliarder itu dengan berbagai macam cara.

Menurut Comey, Trump telah berbohong dan mencemarkan nama baiknya dan FBI. Selama memberi kesaksian, pria berusia 56 tahun itu juga mengatakan kepada Komite Intelijen Senat bahwa Trump mencoba memintanya menghentikan penyelidikan terhadap mantan penasihat keamanan nasional ASMichael Flynn pada Februari lalu.




BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA