Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Di Melbourne Ada Museum Islam

Rabu 19 Jul 2017 06:23 WIB

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Agus Yulianto

Penduduk asli Australia, suku Aborigin.

Penduduk asli Australia, suku Aborigin.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Utusan Khusus Australia untuk Organisation of Islamic Cooperation (OIC) Ahmed Fahour mengatakan, ia dan keluarganya membangun Islamic Museum of Australia dua tahun lalu. Lokasi museum tersebut berada di Melbourne dan buka pada hari Selasa sampai Sabtu.

"Museum ini menggambarkan kontribusi umat Islam kepada Australia yang telah berlangsung ratusan tahun lalu. Kontribusi Muslim bagi Australia antara lain di bidang arsitektur, kultur, teknologi, bisnis, perdagangan, olahraga, juga map dan banyak lagi," katanya di Jakarta, Selasa, (18/7).

Dalam museum terdapat sejarah di mana para pelaut dari Makassar datang ke Australia. Mereka bertemu dengan warga asli Australia, orang Aborigin Utara.

Orang Aborigin Utara menjual teripang kepada orang Makassar pada awal abad ke 17. Selain hubungan dagang, juga ada pernikahan antara orang Makassar dengan suku Aborigin.

"Ini terlihat dari pengaruh kebudayaan Makassar terhadap kebudayaan dan lukisan Aborigin Utara. Ini menunjukkan kalau hubungan antara Australia dan Indonesia telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu," terang Fahour.

Di Islamic Museum of Australia dipamerkan berbagai karya seni, arsitektur, musik, sastra, puisi, dan semua seni Muslim lainnya. Museum ini sangat bagus untuk mempelajari kontribusi dan kebudayaan Islam di Australia.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA