Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Pemerintah Diminta Beri Stimulus Pacu Daya Beli Masyarakat

Jumat 30 Jun 2017 18:45 WIB

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Muhammad Hafil

Logo Aprindo

Logo Aprindo

Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi pengusaha ritel Indonesia (Aprindo) mengharapkan stimulus dari pemerintah untuk memacu daya beli masyarakat yang tengah anjlok. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, satu stimulus yang amat penting untuk merangsang daya beli yakni stabilnya harga energi. 

Ia menjelaskan, jika pemerintah dapat menjaga agar harga listrik, BBM, gas dan air tidak naik hingga akhir tahun, maka konsumsi masyarakat tak akan terganggu. Sebaliknya, jika satu saja di antara jenis energi tersebut harganya naik, maka daya beli akan semakin turun. 

"Kalau terjadi kenaikan harga energi, pasti inflasi tinggi karena biaya logistik naik yang pada akhirnya berpengaruh pada harga pokok penjualan," tuturnya, saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (30/6). 

Kedua, Roy memandang perlu adanya relaksasi perpajakan. Ia berharap tak ada penarikan pajak baru yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat. 

Faktor lain yang juga memengaruhi daya beli yakni BI rate. Karenanya, Aprindo berharap Bank Indonesia dapat menjaga agar tidak ada kenaikan suku bunga. Sebab, Roy menyebut, The Fed saja sudah memastikan tidak akan ada kenaikan hingga akhir tahun. 

"Kalau suka bunga turun, masyarakat bisa mengalihkan dananya ke konsumsi." 

Berdasarkan data Aprindo, daya beli masyarakat Indonesia tengah anjlok sejak awal tahun. Hal itu ditandai dengan melemahnya pertumbuhan industri ritel yang pada Mei 2017 tercatat hanya 3,6 persen. Angka itu bahkan lebih rendah dibanding pertumbuhan pada April 2017 yakni 4,1 persen. Adapun pertumbuhan ritel pada Juni juga diprediksi lebih rendah dibanding capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Jika kondisi ini terus berlanjut, Roy khawatir pertumbuhan ekonomi nasional dapat terganggu. Sebab, kata dia, pengeluaran rumah tangga memiliki porsi 56 persen dalam PDB. Karenanya, jika sektor konsumsi melemah, maka dapat memengaruhi kondisi perekonomian secara keseluruhan.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA