Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

IOC Minta Jepang Pangkas Biaya Olimpiade 2020

Kamis 29 Jun 2017 17:05 WIB

Red: Ratna Puspita

Pekerja melakukan pembangunan Stadion Nasional baru di Tokyo, Jepang, 24 Maret 2017. Stadion ini akan menjadi arena utama untuk pembukaan dan penutupan Olimpiade Tokyo 2020.

Pekerja melakukan pembangunan Stadion Nasional baru di Tokyo, Jepang, 24 Maret 2017. Stadion ini akan menjadi arena utama untuk pembukaan dan penutupan Olimpiade Tokyo 2020.

Foto: EPA/KIMIMASA MAYAMA

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Wakil Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) John Coates memulai kunjungan tiga hari untuk mengevaluasi persiapan Tokyo menyelenggarakan Olimpiade 2020 pada Rabu (28/6). Pada kunjungan itu, Coates menekankan agar perlunya Tokyo melakukan pemotongan anggaran untuk menyelenggarakan Olimpiade 2020. 

Sebelum melakukan tur di beberapa venue, Coates bertemu dengan penyelenggara Olimpiade Tokyo dan menekankan perlunya mempertimbangkan dampak biaya pada undian tuan rumah di masa depan.

"Sangat penting bagi kami ketika biaya pertandingan dan analisis final diumumkan ke publik. Sebab, hal itu akan menjadi daya tarik kota-kota lain menjadi tuan rumah Olimpiade," kata Coates sebelum mengunjungi venue Olimpiade 2020, dilansir Japan Today, Kamis (29/6). 

Coates mengatakan IOC tidak ingin tuan rumah Olimpiade menggelontorkan biaya yang besar untuk perhelatan empat tahunan ini. Sebab, angka yang terlalu besar bakal menakut-nakuti negara lain untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah. 

"Kami ingin membuat mereka tertarik daripada menakut-nakuti mereka," kata Coates. 

Biaya penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di dunia tiga tahun mendatang telah membengkak sejak Tokyo memenangkan undian. Bahkan, anggarannya masih terlalu besar setelah usaha pemotongan biaya. 

Penyelenggara Olimpiade Tokyo memperkirakan perlu dana 1,4 triliun yen (sekitar Rp 165 triliun). Angka itu meningkat dari prediksi ketika Tokyo memenangkan undian Olimpiade 2020 pada September 2013, yaitu 730 miliar yen atau setara Rp 86 triliun. 

Sejak mengambil alih kursi presiden IOC pada 2013, Thomas Bach mengkampanyekan pemangkasan anggaran. Cara ini untuk membuat kota-kota lebih tertarik untuk menyeleggarakan Olimpiade pada masa mendatang. 

Coates mengatakan IOC ingin bekerja sama dengan penyelenggara di Tokyo untuk melakukan pemangkasan anggaran. "Kalau kami tampak sangat keras mendorong penghematan, hal itu demi masa depan kita sendiri. Kami melakukannya, seperti Anda ingin melakukannya untuk pembayar pajak Anda," kata dia. 

IOC pun mendorong penggunaan fasilitas yang ada daripada membangun arena baru. Penyelenggara Olimpiade Tokyo pun sudah berencana memindahkan beberapa pertandingan di luar kota untuk merespon saran IOC. 

Gubernur Tokyo Yuriko Koike memang berniat memangkas anggaran sejak menduduki jabatannya tahun lalu. Panitia lokal mengatakan sejauh ini upaya pemangkasan anggaran berhasil menghemat lebih dari 200 miliar yen dan angka itu masih bisa bertambah. 

Coates juga mendorong pemindahan arena bisbol dan softball ke Fukushima, sebuah wilayah yang dilanda bencana gempa dan tsunami pada 2011. IOC dan penyelenggara Olimpiade Tokyo sangat antusias untuk menggunakan gelanggang di Fukushima sebagai simbol pemulihan bencana yang terjadi enam tahun lalu. 

Kala itu, seluruh masyarakat mengungsi setelah gempa menghancurkan pabrik nuklir Fukushima Dai-Ichi, 240 kilometer di bagian utara Tokyo.

sumber : Japan Today
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA