Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Turun Naiknya Harga Pangan, Polri: Lihat di Pasar Induk

Kamis 29 Jun 2017 02:45 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Agus Yulianto

Seorang pedagang daging sapi menanti pembeli di pasar Senen, Jakarta, Rabu (28/6).

Seorang pedagang daging sapi menanti pembeli di pasar Senen, Jakarta, Rabu (28/6).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, untuk melihat tinggi rendahnya harga pangan harus melihat pasar induk di masing-masing daerah. Tidak bisa, kata dia, tinggi rendahnya harga hanya dilihat dari harga yang diterapkan oleh pedagang eceran atau pedagang keliling.

"Kalau kita melihat harga di pasar tolong dilihat harga pasar yang menjadi pantawan tolok ukur di masing-masing daerah atau provinsi, pasar Kramat Jati (Jaktim) atau pasar Ciroyom di Bandung itu yang menjadi patokan harga," ujar Setyo saat dihubungi di Jakarta , Rabu (28/6).

Sedangkan mengenai harga yang relatif naik yang dipakai para pedagang keliling menurutnya adalah hal yang lumrah. Alasannya karena mereka hanya membeli kiloan sehingga harga menjadi naik bila dibandingkan dengan membeli langsung di pasar induk.

"Bayangkan kalau mereka yang eceran itu hanya membeli 2 kg bawang putih kemudian disuruh menjual dengan untung hanya 2.000 atau 3.000 Rupiah ya kasihan, itu namanya tidak mendapatkan harga yang wajar dan ekonomi berkeadilan," katanya.

Sehingga, lanjut dia, ketika ada informasi bahwa harga sembako masih mahal maka harus dilihat terlebih dahulu di mana orang tersebut membelinya. Dia berharap dengan prinsip harga wajar dan ekonomi berkeadilan maka tidak ada pihak yang dirugikan.

"Yang kita harapkan adalah masing-masing pihak baik itu produsen maupun pengepul, pemasok, pedagang itu mendapatkan untung wajar dan pembeli mampu membeli dengan harga yang wajar," ujarnya.

Kemarin, ungkapnya, sempat ada laporan harga daging sapi mahal di Aceh dan Jambi. Namun, setelah ditelusuri anggota menemukan bahwa masyarakat setempat tidak merasa dirugikan dengan kenaikan tersebut.

Cukup aneh memang, kata dia, namun setelah dikonfirmasi ternyata alasan mereka menerima harga tersebut lantaran mereka memaklumi jika hari itu adalah H-1 lebaran. Sehingga, untuk mendapatkan daging yang segar (dan murah) jelang lebaran memang agak susah.

"Mereka memerlukan daging segar dan daging segar agak susah untuk ditekan sampai dengan harga yang kita harapkan sampai Rp 80 ribu. Jadi masyarakat memahami kalau ini lebaran harga pasti naik," ujarnya.

Sehingga Pemerintah memberikan pilihan kepada masyarakat. Jika tetap ingin mendapatkan harga daging Rp 80 ribu maka bisa membeli daging kerbau beku.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA