Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

 

Harga Daging di Lampung Tembus Rp 150 Ribu

Jumat 23 Jun 2017 07:53 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Harga eceran daging sapi premium Australia telah naik secara signifikan selama 2 tahun terakhir.

Harga eceran daging sapi premium Australia telah naik secara signifikan selama 2 tahun terakhir.

Foto: ABC

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Harga daging sapi pada sejumlah pasar di Kota Bandarlampung mengalami kenaikan sekitar Rp 30 ribu atau menjadi Rp 150 ribu per kilogram dibandingkan pekan lalu. Pantauan di Pasar Perumnas Wayhalim, Kota Bandarlampung, Jumat (23/6) harga Rp 150 ribu tersebut untuk daging yang berkualitas, sedangkan daging masih banyak tercampur lemak (gajih) berkisar Rp 120 ribu per kilogramnya.

Seorang pedagang mengakui kenaikan menjelang H-7 Lebaran. Hal ini karena harga sapi pun mengalami kenaikan dari peternak. Seorang pembeli Ny Harti mengaku kaget dengan kenaikan harga yang cukup drastis tersebut karena dirinya pertengahan puasa lalu masih membeli di tempat yang sama dan kualitas serupa masih Rp 120 ribu per kilogramnya.

"Karena kebutuhan ya harus dibeli. Kemungkinan nanti sore atau besok menjelang satu hari Lebaran bisa lebih naik lagi," kata dia memprediksikan.

Sementara itu, untuk tulang paha hingga kaki yang masih ada sisa-sisa daging dijual berkisar Rp 100 ribu, dan warga banyak membeli karena ingin membuat aneka masakan dari bahan tersebut. Kenaikan harga yang cukup tinggi juga terjadi pada unggas hidup seperti ayam kampung dan itik (bebek), rata-rata mencapai 50 persen.

Untuk ayam jago ukuran besar dijual pedagang Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per ekor, ayam betina (babon) yang biasanya Rp 70 ribu per ekor dijual Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu.

"Wajarlah ada kenaikan, terjadi hukum dagang menjelang Lebaran. Saat ini harga dari pemilik atau peternak pun dinaikan, jadi kami menjualnya juga harus dinaikan," kata Parmin, salah seorang pedagang ayam kampung.

Ia mengakui, untuk mendapatkan ayam kampung berkualitas baik, sudah sejak awal puasa mengumpulkan di rumah dengan cara membeli ke pasar-pasar pinggiran kota atau ke warga.

"Jadi ayam yang saya jual sudah dipelihara hampir sebulan. Memang ada keuntungan tetapi juga dipotong dengan pembelian pakan selama sebulan itu," kata dia.

Sedangkan untuk itik kenaikannnya berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu per ekor. Pada hari biasa dijual Rp 60 ribu per ekor kini mencapai Rp 100 ribu bahkan ada yang menjual lebih dari Rp 100 ribu.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA