Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Rindu Juara di Kandang Sendiri

Sabtu 10 Jun 2017 09:16 WIB

Red: Agus Yulianto

Wartawan Senior - Nurul Hamami

Wartawan Senior - Nurul Hamami

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Wartawan Senior Republika, Nurul S Hamami

Gelaran BCA Indonesia Terbuka kembali bergulir pada 12-18 Juni. Untuk kali pertama turnamen premier superseries dunia berhadiah total 1 juta dolar AS (sekitar Rp 1,3 miliar) ini dimainkan di Balai Sidang Jakarta (Jakarta Convention Centre). Istora, tempat yang biasa digunakan, sedang dalam renovasi untuk persiapan Asian Games tahun depan.

Di tengah kesedihan pascakegagalan Indonesia di Piala Sudirman beberapa waktu lalu, turnamen termahal di dunia ini bisa menjadi hiburan. Inilah saatnya menyaksikan kembali pemain-pemain papan atas dunia berkumpul di Jakarta. Sebagai turnamen dengan kasta tertinggi di seantero jagat, pemain-pemain peringkat 1 sampai 10 dunia diwajibkan oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) untuk ikut serta.

Bagi publik bulu tangkis nasional, turnamen kali ini sekaligus menjadi ajang pelepas rindu akan gelar di kandang sendiri. Setelah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi juara ganda putra di 2013, belum ada lagi pemain Indonesia yang menginjakkan kakinya di podium juara. Akankah tahun ini akan menjadi titik balik kejayaan kembali Merah Putih di negeri sendiri?

Peluang terbesar tentu saja ada di sektor ganda putra. Harapan disandarkan kepada pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Penyandang peringkat satu dunia ini memiliki modal lebih dibandingkan rekan-rekan sepelatnasnya. Itu mereka buktikan dengan merebut tiga gelar berturut-turut awal tahun ini: All England, India Terbuka, dan Malaysia Terbuka.

Keduanya nyaris merebut gelar keempatnya di Singapura Terbuka. Sayang, langkah mereka dihentikan oleh ganda Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen di semifinal. Boe/Mogensen pula yang menekuk Kevin/Marcus di penyisihan Piala Sudirman dan memupus harapan Indonesia ke langkah berikutnya.

Dua kekalahan beruntun dari Boe/Morgensen semestinya menjadi motivasi tersendiri bagi Kevin/Marcus untuk membalasnya di Jakarta. Kedua pasangan berpotensi besar untuk berjumpa lagi di babak final. Asalkan, perjalanan mereka tidak menemui rintangan berarti di babak-babak awal.

Sebagai ganda nomor satu dunia Kevin/Marcus diunggulkan di tempat pertama. Sedangkan, Boe/Morgensen yang menduduki peringkat dua dunia diunggulkan di posisi kedua.

Kevin/Marcus sudah harus tancap gas sejak babak pertama. Lawan yang akan dihadapi di babak pertama adalah pasangan peringkat sepuluh dunia asal Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen. Dalam dua pertemuan sebelumnya Kevin/Marcus selalu menang, namun mereka tetap harus waspada.

Bila lolos dari hadangan Astrup/Rasmussen, Kevin/Marcus kemungkinan akan ditantang Liu Chen/Zhang Nan di babak kedua. Di Malaysia Terbuka April lalu, mereka menang atas ganda Cina itu 23-21, 21-16. Menilik skor yang begitu ketat di gim pertama, Kevin/Marcus tak boleh lengah bila berjumpa lagi dengan Liu/Zhang.

Pasangan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda yang menempati unggulan keenam, diperkirakan bakal menjadi lawan Kevin/Marcus jika mereka sampai ke perempat final. Head to head kedua pasangan adalah 2-2. Pertemuan terakhir terjadi di semifinal Malaysia Terbuka yang dimenangkan Kevin/Marcus 21-16, 21-13. Semestinya Kevin/Marcus bisa mengatasi pasangan Jepang itu.

Jika sesuai perhitungan, di semifinal kemungkinan besar Liu Chen/Li Junhui akan menjadi lawan mereka. Dalam dua pertemuan terakhir tahun ini, Kevin/Marcus selalu menang atas ganda nomor tiga dunia asal Cina itu. Mereka mengalahkannya di Malaysia Terbuka dan final All England.

Kevin/Marcus versus Boe/Mogensen menjadi final impian. Dengan catatan, Boe/Mogensen juga bisa melewati babak demi babak dengan mulus, termasuk mengalahkan Berry Angriawan/Hardianto di babak pertama. Ricky Karanda Suwardi/ ataupun Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto juga siap menjegal Boe Mogensen bila mereka lolos ke semifinal.

Di antara lima nomor, ganda putra memang menjadi peluang terbesar tuan rumah untuk merebut gelar. Semoga itu terwujud dan menjadi pelepas rindu akan gelar di kandang sendiri dalam empat tahun terakhir. Lebih top lagi kalau terjadi final sesama Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA