Kisah Perempuan Bergosip Saat Puasa

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ilham

 Jumat 02 Jun 2017 08:00 WIB

Bergosip (ilustrasi) Foto: ecurrent.fit.edu Bergosip (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Al Ghazali pernah menceritakan kisah puasa yang sia-sia. Cerita ini kemudian dikutip lagi oleh Mustaqirin. Saat itu bulan Ramadhan, dua orang ibu-ibu datang menemui Rasulullah SAW di rumahnya.

Mereka meminta izin kepada Rasulullah untuk berbuka di siang hari karena sakit. Lantas, Rasulullah meminta kedua ibu-ibu tersebut untuk menahannya sedikit lagi karena hari telah menjelang adzan magrib. "Ibu-ibu tersebut menyanggupi permintaan Rasulullah," kata Mustaqirin.

Selepas adzan Magrib, mereka pun berbuka. Rasulullah kemudian mengutus pembantunya, Ubaidillah untuk menemui dua tamu perempuan siang tadi. "Rasulullah memerintahkan Ubaidillah membawa mangkuk kosong," kata Mustaqirin.

Ubaidillah mengikuti perintah Rasulullah. Ia mendatangi dua perempuan yang dimaksud. Ia menyampaikan, Rasulullah meminta mereka memuntahkan penyakitnya pada mangkuk yang dibawa. Kedua perempuan itu menurut.

Mereka memuntahkan isi perut mereka ke mangkok yang dibawa Ubaidilllah. Yang keluar ternyata adalah darah yang berbau amis. "Kenapa yang keluar darah? Bukankah seharusnya apa-apa yang telah dimakannya saat sahur ataupun berbuka?"

Ubaidillah kemudian membawa mangkok itu pada perempuan yang satunya lagi. Teman perempuan itu juga diminta melakukan hal yang sama. Perempuan itu pun memuntahkan darah. Mangkok penuh darah oleh dua orang sakit.

Ubaidillah bertanya pada Rasulullah. Apa sebenarny penyakit mereka? Kenapa dua perempuan ini memuntahkan darah? Rasul menjawab "Kedua orang itu bisa menahan lapar dan haus, namun mereka membatalkan pahala puasanya dengan berghibah (bergosip). Mereka tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak bergosip," katanya.

Dalam puasa, memang tidak cukup sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Karena puasa pada hakikatnya adalah menahan diri. Puasa lisan, hati, pikiran, mata, dan dari perbuatan yang tidak terpuji.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X