Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

"Aduh …, Seandainya Jarak Masjid itu Lebih Jauh!”

Jumat 12 May 2017 11:24 WIB

Red: Irwan Kelana

Ratusan Anak-Anak Fakfak, Papua Barat Ikuti Gerakan Shalat Subuh Berjamaah, di Masjid Agung Baitul Makmur, Fakfak, Papua Barat, Sabtu (23/4)

Ratusan Anak-Anak Fakfak, Papua Barat Ikuti Gerakan Shalat Subuh Berjamaah, di Masjid Agung Baitul Makmur, Fakfak, Papua Barat, Sabtu (23/4)

Foto: Rahmat Fajar/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Meskipun shalat berjamaah di masjid itu sangat besar keutamaannya, nyatanya masih banyak Muslim laki-laki yang merasa berat untuk melaksanakannya. Dengan berbagai alasan, mereka lebih memilih  mengerjakannya secara sendirian di rumah atau di ruang kantor.

Demikian pula, meskipun balasan pahala dan manfaat sedekah itu luar biasa (dalam salah satu ayat Alquran, Allah menyebutkan ganjaran sedekah itu sampai 700 kali lipat, bahkan tak terbatas), nyatanya masih banyak Muslim yang enggan bersedekah alias bakhil.

“Terhadap mereka yang enggan shalat fardhu berjamaah di masjid dan bakhil untuk bersedekah, kisah Sya’ban berikut ini semoga jadi inspirasi  untuk selalu menegakkan shalat fardhu berjamaah di masjid dan memperbanyak sedekah,” ujar Ustadz Taufiqurrohman saat mengisi pengajian guru Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Bogor, Jawa Barat, Jumat (12/5).

Ustadz Taufiqurrohman menjelaskan, Sya’ban merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang selalu aktif shalat fardhu berjamaah bersama dengan Rasulullah. Pada suatu Shubuh, Sya’ban tidak hadir.

Rasulullah bertanya, ke manakah Sya’ban? Apakah ia sakit? “Sahabat tidak ada yang tahu. Ketika Rasulullah SAW bertanya, adakah yang tahu rumah Sya’ban, salah seorang sahabat mengacunkan tangannya. Akhirnya Rasulullah minta diantar ke rumah Sya’ban. Beliau datang ke rumah Sya’ban bersama dengan para sahabat yang lain,” tutur Taufiqurrohman.

Namun ternyata rumah Sya’ban sangat jauh dari Masjid Nabawi. Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga akhirnya 3,5 jam, barulah Rasulullah SAW tiba di rumah Sya’ban. “Subhanallah, berarti setiap hari Sya’ban memerlukan waktu tujuh jam untuk pulang-pergi dari rumah ke masjid,” tutur Taufiqurrohman.

Sesampainya Rasulullah di rumah Sya’ban, beliau ditemui oleh istri Sya’ban. Ketika Rasulullah SAW menanyakan di manakah Sya’ban, wanita itu mengatakan bahwa Sya’ban telah wafat tadi malam.

Akhirnya Rasulullah SAW dan para sahabat mengurus jenazah Sya’ban hingga selesai dikuburkan. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat hendak pulang, istri Sya’ban bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tadi malam sebelum meninggal, tiba-tiba Sya’ban berteriak tiga hal sebagai berikut, ‘Seandainya bisa lebih jauh, seandainya aku berikan yang lebih bagus, seandainya aku berikan semuanya’. Apakah maksudnya,  ya  Rasulullah?”

Rasulullah tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia membacakan Surah Qaf ayat 22, yang artinya, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, menjelang wafatnya Sya’ban diperlihatkan oleh Allah SWT balasan akan amal perbuatannya.

Pertama, mengenai jarak yang harus ditempuhnya dari rumah ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Jarak tersebut harus ditempuh pulang pergi tujuh jam. Saat mengetahui betapa besar pahala yang Allah berikan, Sya’ban pun berseru, “Seandainya bisa lebih jauh.” “Artinya, kalau seandainya jarak rumah-masjid itu lebih jauh, niscaya Sya’ban bisa mendapatkan pahala yang lebih besar lagi. Itulah yang disesali oleh Sya’ban,” tutur Taufiqurrohman.

Kedua, istri Sya’ban mengatakan kepada Rasulullah, setiap pergi ke masjid untuk shalat Shubuh berjamaah, Sya’ban selalu mengenakan dua lapis baju. Baju yang lebih bagus dia pakai di sebelah dalam. Baju yang lebih jelek dia pakai sebagai baju luar. Ketika ada orang yang kedinginan memerlukan baju, Sya’ban membuka baju luar tersebut dan memberikannya kepada orang yang membutuhkan itu. “Itulah yang disesali oleh Sya’ban. Seandainya aku berikan yang lebih bagus. Setelah mengetahui pahala kebaikan yang dia terima dari sedekah baju tersebut dia merasa menyesal kenapa tidak memberikan baju yang lebih baik,” papar Taufiqurrohman.

Satu hal lagi, keluarga Sya’ban merupakan keluarga sederhana. Makanan mereka hanyalah roti kering yang harus direndam dulu agar bisa dimakan. Suatu saat Sya’ban akan menikmati roti tersebut ketika datang peminta-minta kepadanya. Dia membagi dua roti tersebut, dan memberikan separohnya kepada peminta-minta.

“Nah, ketika dia mengetahui betapa besar pahala sedekah itu, ia menyesal mengapa hanya memberikan separoh. Dia pun berteriak, ‘Seandainya aku berikan semua’. Subhanallah, orang yang saleh dan diperlihatkan kepadanya balasan apa yang akan diterima di akhirat nanti, masih menyesali amalnya yang  menurut dia masih kurang. Bagaimana dengan kita? Sudah seharusnya kita berlomba-lomba untuk beramal saleh, antara lain selalu berusaha menegakkan shalat fardhu berjamaah di masjid dan memperbanyak sedekah,” tutur Ustadz Taufiqurrohman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA