Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Mahasiswa UGM Sulap Limbah Sabut Jadi Kerajinan Bernilai

Senin 08 May 2017 19:55 WIB

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Fernan Rahadi

UGM

UGM

Foto: ugm.ac.id

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Bagi kebanyakan orang, sabut kelapa bisanya hanya dibuang begitu saja dan menjadi limbah lingkungan. Namun di tangan sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), limbah tersebut bisa diolah menjadi aneka kerajinan bernilai seni.

Kerajinan dari sabut kelapa tersebut berupa pot, boneka, dan gantungan kunci. Dikembangkan oleh 12 mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Mereka adalah Yofrizal Alfi, Fikri Muhammad, Yulisyah Putri Daulay, Verna Ardhi Hapsari, Putu Sri Ronita Dewi, Icha Ludyawati, Rischa Agustina, Fathurrahman Setiawan, Fajar Sina M, Karina Dita, I Komang Adi W, dan M. Pradipta Natriasukma.

Ide pengolahan limbah sabut kelapa sendiri bermula dari keprihatinan mereka akan permasalahan yang terjadi di  di Dusun Plampang 1 Desa Kalirejo, kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Daerah  ini memiliki potensi kelapa yang melimpah, termasuk sabutnya, tetapi limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

“Potensi sabut kelapa di wilayah ini sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan dengan baik. Kebanyakan hanya dibuang maupun dibakar,” kata Putu Sri Ronita Dewi, Senin (8/5). Berawal dari kondisi itu, mereka bergerak memberi pendampingan kepada warga dalam mengolah limbah sabut kelapa. 

Mereka memberikan bimbingan dan pelatihan pengolahan sabut kelapa menjadi aneka kerajinan dalam program Co-Craft. “Program Co-Craft ini adalah upaya untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar,” ujar Putu.

Program ini  memiliki tiga kegiatan utama. Pertama, pelatihan proses pengolahan sabut kelapa menjadi serabut kelapa kasar, halus, dan serbuk kelapa. Kedua, pelatihan produk kerajinan dari serabut kelapa dan serbuk kelapa. 

Ketiga, pelatihan pemasaran secara offline dan online serta pembentukan Usaha Kecil Menengah yang dikelola oleh masyarakat khususnya ibu-ibu PKK Plampang 1. Selanjutnya, ibu-ibu PKK juga akan dilatih cara pembukuan yang tepat dan efisien dalam pengelolaan usaha produk kerajinan ini.

“Ada 3 produk unggulan dari limbah sabut kelapa ini yaitu coco potty, coco doll, dan coco keychain,” kata Putu. Coco potty merupakan pot berbahan dasar serabut kelapa dengan desain unik dan berfungsi sebagi media edukasi penanaman. Sedangkan Coco doll adalah boneka pintalan dari serabut kelapa dengan desain bertemakan hewan sebagai souvenir yang ramah lingkungan.

Sementara Coco keychaina dalah gantungan kunci berbahan dasar serabut dan serbuk kelapa dengan desain bertema nasionalisme dan tradisional. Semua produk kerajinan ini dijual dengan harga mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu.

“Untuk pemasarannya kami lakukan lewat media promosi online seperti website dan media sosial, serta pemasaran offline melalui toko-toko souvenir  Kulonprogo serta Kota Yogyakarta,” papar Putu. Pemanfaatan limbah sabut kelapa ini selain mengurangi limbah lingkungan juga mampu meningkatkan nilai ekonomis sabut kelapa. Dengan demikian dapat mendorong peningkatan pendapatan warga.

Produk-produk hasil program ini diharapkan dapat menjadi kerajinan khas Dusun Plampang 1. Sehingga keberadaannya dapat menjadi penunjang dalam pengembangan desa wisata alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA