Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Kemenpar-Garuda Gandeng Otoritas Bandara KL

Sabtu 06 May 2017 19:19 WIB

Red: Didi Purwadi

Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. (ilustrasi)

Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. (ilustrasi)

Foto: Republika/Musiron

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan hanya otoritas udara nasional yang didekati Kemenpar untuk menambah seat capacity dan air bridge connection. Pengatur lalulintas udara di Bandara Kuala Lumpur Malaysia pun diajak bicara untuk menambah slot penerbangan dari dan menuju Indonesia.

Garuda Indonesia Kuala Lumpur pun diajak berkolaborasi dalam Offshore Meeting Airlines Committee (AOC) di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, pada  5-7 Mei 2017. Muaranya untuk menemukan solusi bottlenecking di akses udara ke Indonesia.

AOC menjadi wadah organisasi seluruh airlines yang berada di bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) - KLIA2 Malaysia. Mereka merupakan mitra kerja Airport Authority dan beberapa perusahaan penyelenggara pelayanan di bandara.

''Perannya sangat strategis. Karena itu, mereka pun perlu duduk bersama membahas problem bottlenecking di akses udara ke Indonesia,'' kata Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, I Gde Pitana, yang didampingi Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Tenggara, Rizki Handayani Mustafa, Jumat (5/3).

Pitana mengatakan responnya sangat bagus. AOC langsung mengerahkan seluruh pimpinannya. Para pejabat bandara KLIA - KLIA2 plus perwakilan airlines internasional di Malaysia juga ikut terbang ke Jakarta.

Chairman dan Exco AOC ikut hadir di tengah acara. Dari Malaysian Authorities, ada unsur immigration, airports, customs, health, police dan DCA yang ikut diundang hadir ke tengah acara.

Sementara airlines representative di Malaysia, ada Emirates, Royal Brunei, Royal Jordan, Etihad, Japan Airlines, Singapore Airlines, Air Asia, Vietnam Airlines, Silk Air, dan China Southern. Lainnya adalah Bristish Airways, Eva Air, Regent Airlines, Air China, Cathay Dragon, Malindo Air, Pakistan Airlines, Bangkok Airways, Xiamen Airlines, Viet Jet, Myanmar Airlines, Air Mauritius, serta Air Astana.

Pitana menegaskan misi mereka sama. Yakni, membantu meningkatkan dukungan konektivitas udara internasional ke Indonesia. “Ini untuk meningkatkan dukungan konektivitas udara internasional ke Indonesia sekaligus mempromosikan Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” katanya.

Konektivitas Udara
Pitana mengatakan Indonesia membutuhkan konektivitas ke Bandara Soekarno-Hatta karena butuh banyak tambahan seats capacity. Sejak tahun 2016, Bandara Internasional Soekarno Hatta sudah memiliki terminal 3 ultimate dan sarana pendukung lainnya.

''Karenanya dipandang perlu untuk mempromosikan Bandara Internasional Soetta ke maskapai penerbangan internasional melalui kegiatan ini,” kata Pitana.

Soal konektivitas udara, Pitana mengakui Indonesia memang menghadapi problem serius. Namun, ia optimistis persoalan tersebut dapat diatasi karena banyak kementerian dan lembaga lain yang ikut membantu mengurai persoalan ini. Kemenhub, Kemen-PUPR, Kemen BUMN, Kemen LHK, Angkasa Pura I dan II, Airnav, perusahaan airlines, serta pemda aktifmembantu menyelesaikan masalah konektivitas udara.

Kebetulan, benchmarking-nya juga sudah ada. Contohnya bisa mengarah ke Jepang yang sukses mancapai target pertumbuhan double growth. Target durasi yang dipatok 10 tahun, bisa tercapai dalam waktu 4 tahun.

''Semua itu bisa tercapai lantaran sukses mengembangkan air connectivity. Dari mulai deregulasi berupa membebaskan visa kunjungan dari originasi Cina dan ASEAN sejak 2013 hingga membangun low cost carrier, yang mendorong travellers lebih banyak ke Tokyo,'' kata Pitana. ''Semua dilakukan. Hasilnya? Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat jumlah wisman ke Jepang naik 47% tahun 2015.''

Arah Offshore Meeting Airlines Committee (AOC) pada 5-7 Mei 2017 kira-kira sama seperti strategi yang sudah dilakukan Jepang. Bila Jepang mengarahkan LCC ke Tokyo, Indonesia akan fokus ke inbond menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Kita bisa belajar dari Jepang. Benchmark dari Negeri Matahari Terbit itu, target double inbound tourism. Jadi target Presiden Jokowi dengan 20 juta wisatawan di 2019 itu sebenarnya masuk nalar. Ada contoh yang konkret di Jepang,” sambung Menpar Arief Yahya.

Offshore Meeting AOC Kuala Lumpur, Malaysia ini diharapkan dapat menarik minat perwakilan airlines internasional yang ada di Malaysia untuk membuka rute penerbangan langsung ke Soekarno-Hatta serta destinasi wisata lain di Indonesia. Selain itu, kegiatan yang digagas Garuda Indonesia Kuala Lumpur sebagai organizer committee, dan didukung penuh oleh Kemenpar itu memprioritaskan peningkatan kerjasama di bidang konektivitas udara internasional. Utamanya Malaysia ke destinasi-destinasi wisata di Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA