Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Mahathir: Nasionalisme Menjadi Buruk karena Agresif

Kamis 04 May 2017 22:40 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Ilham

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad

Foto: Republika/ Darmawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohammad berpendapat bahwa rasa nasionalime adalah suatu hal yang natural bagi setiap orang. Bahkan, setiap orang di belahan dunia manapun memiliki rasa nasionalime yang berbeda-beda.

"Menurut saya nasionalisme adalah hal yang natural," kata Mahathir di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/5).

Mahathir mencontohkan, seseorang bisa memiliki jiwa nasionalime karena tinggal dan tumbuh besar di negara tertentu. Mereka juga memahami budaya di lingkungannya serta diajarkan sejak kecil untuk mengenal dan mencintai negaranya, bahkan membela negaranya.

Hanya saja, nasionalisme bisa menjadi ekstrim saat seseorang memaksakannya kepada orang lain. Begitupun dengan membela negara, bila pembelaan tersebut berjalan dengan agresif tentu saja nasionalisme menjadi tidak baik.

"Kita mempunyai kesempatan yang baik saat ini untuk mengajar orang apa artinya nasionalisme yang mereferensikan ke kedamaian," ujarnya.

Mahathir mencontohkan, di sebuah sekolah terdapat pelajaran sejarah. Dalam pelajaran tersebut tidak diajarkan tentang kedamaian, namun justru tentang perang dan perang.

Perang dan perang itu, kata Mahathir, yang kemudian diagung-agungkan dalam pelajaran sejarah. Sehingga kemudian menciptakan orang-orang yang tumbuh menjadi agresif dan mau mati untuk hal yang sederhana.

"Maksud saya seperti mengirim tentara ke negara lain yang lebih kecil untuk menyerang mereka atau untuk diserang. Itu karena Anda tidak terlalu menghargai apa arti perdamaian," paparnya.

Tapi di sekolah, kata Mahathir, seolah-seolah menyuruh muridnya untuk memuliakan pahlawan masa lalu, peperangan masa lalu, mengagungkan kebesaran negaranya sendiri dengan tujuan agar melahirkan jiwa-jiwa nasionalis. Menurut Mahathir, nasionalisme semacam itu tidaklah berarti.

"Nasioanalisme menjadi tidak berarti kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah, kita saling membunuh. Pembunuhan itu adalah kejahatan. Kita harus mengajarkan perdamaian di sekolah," katanya.

Mahathir mengaku tak habis pikir, perbuatan membunuh satu orang dianggap kriminal bahkan dapat dihukum mati. Tapi membunuh satu juta orang justru diberikan penghargaan, medali, disebut sebagai tentara yang hebat, dibuatkan patung, bahkan dicatat namanya dalam buku sejarah. Menurut dia, hal itu salah satu contoh saat menggunakan media dengan tidak benar.

"Sebagai jurnalis, ini adalah profesi Anda. Anda harus berusaha keras untuk memberikan gambaran yang lebih baik tentang yang baik dan yang buruk. Mengapa kedamaian itu baik dan mengapa perang itu buruk," kata dia.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA