Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Sekjen Pengungsi Norwegia Syok Lihat Kelaparan di Yaman

Kamis 04 May 2017 22:26 WIB

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Ilham

Anak-anak di Yaman. (ilustrasi)

Anak-anak di Yaman. (ilustrasi)

Foto: www.metrotainment.net

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Seorang diplomat Eropa paling berpengalaman mengatakan, ia sangat syok sampai terasa ke tulang-tulangnya saat menyaksikan bencana kelaparan di Yaman. Menurut Sekjen Pengungsi Norwegia, Jan Egeland, bencana kelaparan di Yaman merupakan kegagalan besar diplomasi internasional.

"Hanya tiga juta dari tujuh juta orang yang kelaparan yang diberi makan bulan lalu," katanya seperti dilansir Guardian, Rabu, (3/5).

Pria dengan senjata dan kekuasaan di Yaman begitu juga dengan pria di ibu kota regional dan internasional merongrong segala upaya untuk mencegah kelaparan yang seharusnya dapat dicegah. Saat ini, layanan kesehatan dan pendidikan bagi jutaan anak-anak semakin memburuk di Yaman.

Para aktivis di lapangan mengatakan, bantuan untuk Yaman tak sampai ke tangan warga yang membutuhkan. Pada bulan April, World Food Programme mengaku hanya mampu memberi makan tiga juta pria, wanita dan anak-anak di Yaman. Padahal, saat ini Yaman sudah berada di ambang kelaparan akibat kurangnya sumber daya dan keterlambatan pengiriman makanan.

Egeland melakukan kunjungan kerja ke Yaman selama lima hari. Ia mengaku sangat syok setelah menyaksikan dan mendengar perang di sana. "Yaman yang dilanda perang dan kelaparan," katanya.

Dunia, kata dia, membiarkan warga Yaman secara perlahan tapi pasti dilanda kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penyebab kelaparan bukan kekeringan namun malapetaka buatan manusia.

Menurut PBB, diperkirakan 19 juta orang dari jumlah total penduduk Yaman sekitar 27 juta membutuhkan beberapa bentuk bantuan. Apalagi, saat ini harga komoditas dasar telah meningkat.

Egeland menjelaskan, ia bertemu dengan para guru, petugas kesehatan, dan insinyur yang belum dibayar selama delapan bulan. Mereka berjuang keras untuk bertahan hidup.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA