Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Sentuhan Mimar Sinan di Masjid Sehitlik Jerman

Kamis 04 May 2017 19:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi suasana di Kerajaan Ottoman.

Ilustrasi suasana di Kerajaan Ottoman.

Foto: Arts.wallpapers.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid ini mengambil arsitektur Dinasti Ottoman pada abad ke-16 dan ke-17. Masa ini ditandai oleh arsitektur Ottoman kenamaan, Mimar Sinan. Pada masa sang arsitek legendaris itulah, Kesultanan Ottoman mencapai puncak kejayaannya. Periode ini berlangsung hingga awal abad ke-18 ketika Eropa semakin menguatkan pengaruhnya terhadap arsitektur Ottoman.

Seperti halnya arsitektur Ottoman, masjid ini memiliki sebuah kubah raksasa (dome) dan dikelilingi oleh lengkungan setengah kubah yang lebih kecil pada delapan sisi. Kubah raksasa yang berdiri setinggi 21,1 meter itu ditopang oleh delapan pilar tebal di lantai pertama masjid. Keindahan masjid tersebut ditambah dengan dua menara lancip yang berdiri setinggi 37,07 meter. 

Pembangunan menara masjid itu sempat menuai protes karena lokasi masjid yang tidak jauh dari Bandara Internasional Tempelhof. Sesuai kesepakatan, menara ini hanya boleh dibangun setinggi 38 meter. Pihak masjid harus membayar denda sekitar 80 ribu euro untuk mempertahankan kedua menara tersebut.

Bagian dalam masjid mencirikan gaya arsitektur Ottoman. Mihrabnya diukir dengan sangat indah. Di atasnya terdapat kaligrafi Alquran. Lampu hias menggantung di bawah kubah utama. Di tengah-tengah kubah bagian dalam terdapat kaligrafi surah al-Ikhlas yang terbuat dari emas. Pada lengkungan di atas pilar penyangga kubah utama terdapat kaligrafi bertuliskan nama Allah, Muhammad, Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Hassan, dan Hussein bin Ali bin Abi Thalib.

Beberapa meter di sebelah kanan mihrab terdapat mimbar yang terbuat dari marmer. Marmer yang digunakan dalam Masjid Sehitlik diambil dari Pulau Marmara, Turki, sedangkan untuk keramik yang dipakai dalam pembangunan masjid ini dibuat di Pulau Iznik. Keramik tersebut dibuat manual dan dilukis dengan tangan. Keramik ini berbahan dasar pasir kuarsa.

Masjid ini menjadi pusat kegiatan masyarakat Muslim yang berada di Berlin, khususnya di distrik Neukoeln dan Kreuzburg. Selain digunakan sebagai tempat beribadah, masjid ini juga digunakan untuk pusat kebudayaan Islam. Kebanyakan masyarakat yang datang ke masjid tersebut adalah masyarakat berbahasa Turki atau Arab. Namun, tidak sedikit pula masyarakat Jerman yang mengunjungi masjid tersebut. Khotbah Jumat di Masjid Sehitlik menggunakan bahasa Jerman.

Disarikan dari Pusat Data Republika

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA